TribunManado/

Panglima Myanmar: Rohingya Tak Mengakar di Myanmar

Ethis Rohingya tidak mengakar di Myanmar. Klaim itu disampaikan Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing.

Panglima Myanmar: Rohingya Tak Mengakar di Myanmar
AFP
Pengungsi Rohingya beristirahat di tenda wilayah perbatasan antara Bangladesh-Myanmar, Minggu (3/9/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, YANGON – Ethis Rohingya tidak mengakar di Muanmar. Klaim itu disampaikan Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. Dia mengimbau rakyat negara itu bersatu menghadapi "isu" Rohingya. Minoritas Rohingya disebutnya “tidak memiliki akar di negara” itu.

Kantor berita Perancis, AFP, Minggu (17/9/2017), melaporkan, operasi militer yang digelar di wilayah konflik Rakhine, di mana minoritas Rohingya menetap, adalah untuk mengusir militan.

Jenderal Min Aung Hlaing yang menjadi sasaran kecaman internasional telah mengungkapkan pandangannya tersebut di halaman Facebook-nya, Sabtu (16/9/2017), seperti dilaporkan kantor berita AFP.

"Mereka menuntut pengakuan sebagai Rohingya, yang tak pernah menjadi kelompok etnis di Myanmar. Bahasa Bengali memicu masalah nasional dan kita perlu bersatu dalam menegakkan kebenaran," kata pernyataan Min Agung di Facebook.

Militer mengatakan, "operasi pembersihan" militan dilakukan untuk merespons serangan militan Rohingya ke lebih dari 20 pos keamanan pada 25 Agustus 2017 sehingga akibat serangan menewaskan puluhan orang.

Namun, dunia internasional merujuk pada keterangan para pengungsi Rohingya, menduga operasi itu merupakan “pembersihan etnis” minoritas Rohingya yang beragama Islam.

 
Kekerasan bersenjata selama tiga minggu ini, sejak 25 Agustus, telah memicu pengungsian besar-besaran yang kini telah mencapai 400.000 warga Rohingya lari ke Banglades.

Para petinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menggambarkan bahwa operasi militer Myanmar tak pelak lagi sebagai "pembersihan etnis" Rohingya, sebuah kelompok tanpa negara yang telah mengalami penganiayaan dan penindasan selama bertahun-tahun.

Status minoritas Muslim telah lama menjadi topik yang eksplosif di Myanmar. Di banyak kalangan mayoritas Buddhis memandang kelompok itu sebagai orang asing dari Banglades.

Warga lokal Myanmar tidak mengenal sebutan etnis Rohingya kecuali bersikeras mengatakan bahwa para imigran gelap itu tidak "orang Bengali" yang lari dari Banglades puluhan tahun silam.

Pemimpin sipil Myanmar, mantan aktivis demokrasi Aung San Suu Kyi, juga telah dikecam karena gagal memberi dukungan yang kuat bagi Rohingya. *

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help