TribunManado/

Bukit Hombu di Tontalete Kema, Saksi Bisu Kekejaman Serdadu Jepang pada Perang Dunia II

Suara erang kesakitan kerap terdengar dari atas deretan bukit di Desa Tontalete, Kecamatan Kema, Minahasa Utara.

Bukit Hombu di Tontalete Kema, Saksi Bisu Kekejaman Serdadu Jepang pada Perang Dunia II
Hombu, sebuah area di perbukitan Desa Tontalete, Kema, Minahasa Utara jadi saksi bisu kekejaman serdadu Jepang di masa Perang Dunia II 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Suara erang kesakitan kerap terdengar dari atas deretan bukit di Desa Tontalete, Kecamatan Kema, Minahasa Utara. Terbawa deru angin, suara itu terdengar hingga jauh. Jika malam tiba, suara itu menjelma menjadi mahluk dengan rupa mengerikan.

Cerita warga setempat, mahluk itu melayang -layang di sela -sela pepohonan kelapa yang tumbuh di atas bukit, turun ke deretan ilalang di bawah bukit dengan tak menjejakkan kaki meski nampak membawa tubuh yang berat.

Bukit itu memang menyimpan sisi kelam sejarah. Dari cerita turun temurun warga setempat, tempat itu menjadi arena serdadu Jepang menyiksa penduduk atau tawanan di masa penjajahan.

Tempat penyiksaan itu oleh masyarakat setempat disebut Hombu. Konon, mahluk dengan suara mengerikan itu adalah roh warga yang disiksa Jepang di tempat itu. Katanya, roh tak bisa bersaksi. Dia hanya bisa menunjukkan jejak kelam. Mungkin agar generasi penerus tidak melupakan sejarah, bisa mengingatnya. Kalau mungkin bisa menelusurinya.

Henk Mekel, Veteran pejuang Indonesia asal Desa Sukur yang pernah menjadi pasukan Heiho Jepang menuturkan, ada dua Hombu di wilayah Tonsea. Selain di Tontalete, satu lagi di Pulau Lembeh, Bitung. "Penyiksaan berlangsung di dua tempat itu," kata dia.

Sebut Mekel, tentara Jepang menyiksa warga yang melakukan pelanggaran seperti mencuri, membunuh atau malas bekerja. Mereka menerapkan sistem hukuman mirip hukum taurat.
"Kalau mencuri potong tangan, seperti itulah cara mereka menjaga tertib sipil," kata dia.

Ia memperkirakan ada ratusan warga jadi korban penyiksaan. Namun, mereka bukan romusha.
"Hanya warga biasa yang melakukan pelanggaran, kalau romusha itu warga yang dipekerjakan," kata dia.

Ia bercerita, Jepang kala itu memberlakukan sistem kerja pada warga untuk membangun proyek perang. Salah satu yang diingatnya adalah lapangan terbang di Mapanget. Kini Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. "Warga diminta bekerja membangun lapangan terbang, yang malas bekerja atau melawan pasti dibawa ke Hombu," ujarnya.

Oli Item, saksi perang yang bermukim di Tondano menuturkan, para penjahat memang langsung dihukum siksa oleh Jepang. Sikap itu berdampak pada kurangnya angka kriminalitas pada masa itu. "Memang keras tapi tertibnya terasa," kata dia.

Sebut Oli, warga Minahasa umumnya mendapat "previlege" dari Jepang. Selain ciri fisiknya mirip, juga latar belakang pendaratan Jepang di Manado. "Sebelum mendarat mereka menyamar pedagang, menjalin hubungan baik dengan warga. Sseperti tetangga saya. Tak tahunya ia adalah kapten Jepang yang menyamar jadi pedagang buah," bebernya.(arthurrompis)

Kalau mencuri potong tangan, seperti itulah cara mereka menjaga tertib sipil. Hanya warga biasa yang melakukan pelanggaran, kalau romusha itu warga yang dipekerjakan
Henk Mekel
Veteran Pejuang Kemerdekaan asal Tonsea

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help