TribunManado/

Presiden Uni Eropa Prihatin Masalah HAK Turki

Rakyat Turki harus bersabar lagi. Keinginan bergabung ke Uni Eropa belum akan terkabul dalam waktu dekat.

Presiden Uni Eropa Prihatin Masalah HAK Turki
via Daily Mail
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama Menteri Agama Turki Mehmet Gormez yang marah dan lalu meninggalkan rangkaian prosesi pemakaman legenda tinju Muhammad Ali di Louisville, AS, karena kesempatannya untuk memberi sambutan dicoret, dengan alasan keterbatasan waktu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, STRASBOURG – Rakyat Turki harus bersabar lagi. Keinginan bergabung ke Uni Eropa belum akan terkabul dalam waktu dekat. Kepala Komisi Uni Eropa telah menolak permohonan keanggotaan Turki dari blok tersebut untuk "masa mendatang" karena masalah hak asasi.

Dalam pidato tahunan State of Union, Rabu (13/9/2017), Presiden Komisi Uni Eropa, Jean-Claude Juncker mengatakan, keprihatinan akan masalah hak asasi manusia (HAM) adalah alasannya.

Juncker juga menyampaikan nada optimis dibandingkan dengan pidato tahunannya tahun lalu, yang muncul setelah Inggris menyatakan akan keluar dari blok itu.

"Perekonomian Eropa akhirnya membaik lagi," katanya kepada anggota Parlemen Uni Eropa yang berkumpul di Parlemen Eropa di Strasbourg, Perancis.

"Kita sekarang punya kesempatan yang tidak akan terbuka selamanya. Mari kita manfaatkan momentum kesempatan ini,” ujarnya.

Juncker mengatakan, Uni Eropa akan berusaha menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Meksiko dan negara-negara Amerika Selatan, dan membuka perundingan perdagangan dengan Australia dan Selandia Baru.

Namun, Juncker mengecam kuat Turki, menyoroti persidangan yang terus berlanjut terhadap belasan wartawan Turki dan aktivis oposisi yang dikenai tuduhan melakukan kegiatan teroris.

Amnesty International, yang ketuanya dari Turki termasuk di antara yang ditahan, menyambut baik pidato Juncker.

"Lebih dari 150.000 orang benar-benar menghadapi semacam tuntutan, atau kehilangan posisinya sebagai pegawai negeri,”  juru bicara Amnesty di Turki Milena Buyum.

“Situasi ini tidak dapat diterima, dan dalam hal HAM di Turki, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang langka," ujar Buyum lagi. *

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help