TribunManado/

Pendapatan Berkurang Drastis, Sopir Bentor Nyambi jadi Petani dan Penambang

"Sekarang banyak bentor dari luar. Tapi kami juga tak bisa usir. Mereka cari uang. Nanti kan bisa jadi saya juga cari penumpang di luar Lolak,"

Pendapatan Berkurang Drastis, Sopir Bentor Nyambi jadi Petani dan Penambang
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Sopir bentor menunggu penumpang di kawasan kantor bupati Bolmong 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Bentor menjadi alat transportasi utama bagi masyarakar Bolaang Mongondow. Bentor sangat membantu keseharian warga yang tak punya kendaraan pribadi.

Di Bolmong, bentor terpusat di Lolak dan Inobonto. Sementara untuk kawasan Dumoga Raya, hanya ada beberapa bentor. Itupun sering tak digunakan untuk komersil.

Menurut keterangan sejumlah sopir bentor, di Lolak ada sekitar 130-an bentor. Sementara di Inobonto, ada sekitaran 90-an bentor yang beroperasi setiap harinya.

Dulu sewaktu bentor masih jarang, pendapatan para joki lumayan banyak. Bisa sampai Rp 250 ribu per hari. Namun ketika bentor sekarang menjamur, kadang hanya Rp 50 ribu seharian jalan.

Suni Halaa (36), warga Lolak, merasakan betul hal itu. Pendapatannya kini jadi tak seberapa. Kalau sepi hanya Rp 50 ribu sehari. Kalau ramai, bisa sampai Rp 150 ribu.

"Sekarang banyak bentor dari luar yang masuk. Tapi kami juga tak bisa usir. Mereka cari uang. Nanti kan bisa jadi saya juga cari penumpang di luar Lolak," ujarnya Sabtu (9/9/2017).

Hal senada juga dialami Ruslan (46). Ia mengaku kesulitan dengan kondisi bentor saat ini yang menjamur. Untung-untungan ia bisa mendapat hingga ratusan ribu.

Melihat kondisi bentor yang tak menjamin, para joki bentor ternyata tak hanya mengandalkan pendapatan dari bentor ini. Suni misalnya, sesekali pergi ke tambang. Sementara Ruslan, sebagai petani penggarap.

Keduanya mengaku, sulit juga kalau terus berharap dari pendapatan bentor. Apalagi memang warga Lolak sendiri belum terlalu banyak. Lolak masih kota sepi dan kecil.

"Kalau tak narik, saya bertani. Petani penggarap. Jagung, padi. Yah kalau tak begitu, susah juga hidupkan istri dan anak di rumah kalau hanya bergantung pada bentor," ujar Ruslan.

Tarif bentor bervariasi, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu. Sesuai dengan jarak. Warga tetap mengandalkan bentor ini untuk aktivitas sehari-hari. Karena tak ada moda transportasi lain di dalam kota.

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help