TribunManado/

Husen Potong Sapi Sumbangan dari Presiden Jokowi

Seokor sapi milik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tak luput dari tajamnya pisau yang menyayat lehernya.

Husen Potong Sapi Sumbangan dari Presiden Jokowi
CHRISTIAN WAYONGKERE
Panitia hari raya idul adha di mesjid Baitul Makmur berupaya gulingkan sapi yang hendak dipotong 

TRIBUNMANADO.CO.ID,KOTAMOBAGU- Seokor sapi milik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tak luput dari tajamnya pisau yang menyayat lehernya. Jumat (1/9) tepat pada perayaan Idul Adha 1438 H di teras samping mesjid Baitul Makmur sapi milik Jokowi dikurbankan untuk masyarakat.

"Selama menjadi tukang potong hewan kurban, baru sekarang menyembelih kurban milik Presiden. Ini sangat luar biasa dimana pada momentum hari raya Idul Adha pak Presiden sumbangkan langsung hewan kurban jenis sapi seberat kira-kira hampir 900 kilo," kata Hi Muhamad Husen SAG sosok yang menyembelih kurban milik Presiden, Jumat kemarin.

Kepada Tribun Manado pria yang menjabat wakil ketua GTM Mesjid Baitul Makmur mengaku setiap tahun rutin menyembelih hewan kurban. Tidak ada yang special untuk menyembelih kurban dari Presiden karena, dalam ajaran Islam ada tata cara yang berlaku untuk semua hewan kurban.

Hewan kurban itu diserahkan Presiden Jokowi melalui asissten II setda Provinsi Sulut Rudy Mokoginta kepada walikota Kotamobagu Tatong Bara kemudian diteruskan kepada pengurus dan panitia di mesjid pada saat hari H.

Selama menyembelih hewan kurban tak mendapat kesalahan atau hal-hal yang diluar kehendak, karena dilakukan dengan benar. "Posisi pemotongan harus tepat ditenggorokan dan hars putus urut pernafasan dan darah. Cara mengetahui itu dengan cara di rabah," kata dia. Dalam penyembilahan ada beberapa etika hewan dihadapan ke kiblat, kemudian menyembelih dengan menyebut nama Allah dan kemudian pisau harus tajam.

Terpisah menjadi seorang penyembelih hewan kurban bukanlah hal yang mudah tuk ditekuni, butuh kesabaran dan yang utama menguasai cara serta teknik memotong dengan baik.

"Dulu belajar dari alharhum ayah ayah, tak gampang untuk bisa tau hal ini butuh proses," kata Aprianto Paputungan (46) warga Kelurahan Motoboi Kecil kepada Tribun Manado.

Ditemui usai memotong hewan kurban jenis sapi di lapangan Motoboi saat pelaksanaan hari raya kurban, Aprianto mengaku sudah menekuni profesi ini selama 20 tahun. Kali pertama diberikan kepercayaan saat hajatan keluarga memotong sapi.

Dia juga memiliki profesi harian tetap yaitu sebagai petani ladang dan setiap tahun sudah kewajiban menjadi pemotong hewan kurban. Dia mengkisahkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini jumlah hewan yang dikurbankan terus menunjukkan angka kenaikan. "Jadi sebelum memotong hewan kurban pastikan dulu ikatannya sudah baik, lalu kurban dibaringkan dibawah dan wajahnya dihadapan ke arah kiblat lalu mengucapkan doa sebelum memotong bagian leher," kata dia.

Selama 20 tahun menekuni profesi ini, Aprianto sudah banyak diberhadapkan dengan suka dukanya, paling dia kenang hingga saat ini peristiwa beberapa tahun silam saat selesai memotong hewan kurban jenis sapi tiba-tiba 'hidup lagi. "Jadi waktu di potong dikiri sudah tak bernyawa tiba-tiba dia bergerak dan berontak, membuat saya kaget dan takut," tukasnya.(crz)

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help