TribunManado/

Citizen Journalism: Bagikan Ilmu Lestarikan Lingkungan

Kecintaannya pada lingkungan telah membawa Agustinus Wijayanto mengelilingi Indonesia dan belahan bumi lainnya, untuk membagikan ilmunya sebagai peng

Citizen Journalism: Bagikan Ilmu Lestarikan Lingkungan
foto istimewa

Oleh:  Agustinus Wijayanto

KECINTAANNYA pada lingkungan telah membawa Agustinus Wijayanto mengelilingi Indonesia dan belahan bumi lainnya, untuk membagikan ilmunya sebagai penggiat lingkungan.

Kelompok-kelompok masyarakat yang telah dibimbingnya, bersama timnya, terbukti berhasil membangun kawasan ekowisata yang mumpuni.

Tak hanya itu, pria yang hobi menjelajah ini juga merupakan pengamat burung dan peneliti kupu-kupu. Saat ini pria asal Jogjakarta ini menjabat sebagai Wakil Direktur Ekselutif Yapeka. Berikut ceritanya dalam rubrik Citizen Journalism Tribun Manado.

Saya terjun ke dunia lingkungan sekitar tahun 1999an atau awal 2000an. Tepatnya kapan, saya lupa. Sebelum memang benar-benar terjun, alam memang sudah sangat dekat dengan saya.

Keterpanggilan saya menjadi penggiat lingkungan karena melihat kondisi lingkungan yang masih perlu perhatian dari semua pihak. Tidak hanya pemerintah tapi juga semua kalangan. Bisa membuat lingkungan lebih baik.

Kemudian dari aspek komunitas yang perlu diperhatikan untuk mendapat perhatian juga. Misalnya peningkatan kapasitas, penyadartahuan dan lain-lain. Aspek lingkungan tidak hanya dilihat dari ekologi atau flora dan faunanya saja, tapi juga aspek sosial karena, ada keterkaitan antara aspek ekologi dan sosial. 

Tiap individu manusia memiliki peran dalam upaya perbaikan lingkungan dan juga keberadaan lingkungan yang baik, dapat memberikan manfaat bagi manusia juga. Timbal baliklah.

Untuk wilayah Sulawesi Utara, seperti Minahasa Utara dan Kabupaten Kepulauan Sangihe yang sedang saya dan tim garap. Waktu saya gabung dengan WCS, ada lima daerah di Sulawesi Utara yang kami garap. Program PNPM LMP di Minahasa, Minut, Bolmong, Bolsel dan Sangihe dari 2008 hingga 2012. Bahkan dari Aceh hingga Papua juga.

Pasca 2012, Yapeka mandiri cari dana untuk pesisir Minut dengan dukungan dari Goodplanet Perancis di Bahoi, Talise, Lihunu untuk penguatan Daerah Perlindungan Laut dan pemanfaatannya. Di Sangihe ada di lima desa di kecamatan Tabukan selatan dan Nusa Tabukan.

Yapeka berkonsorsium di Minut dengan Celebio dan Manengkel, di Sangihe dengan Sampiri. Untuk yang Sangihe yang program pesisir didukung oleh CEPF, terutama untul perlindungan dugong dan habitatnya melalui DPL berbasis masyarakat dan ekowisata.

Minut sudah bisa mandiri, sudah ada dukungan juga dari dinas-dinas terkait. Tapi juga tetap kami pantau dan dampingi terutama pendampingan desa-desa sekitar Bahoi yaitu Tarabitan dan Bulutui yang mau membuat DPL. Sangihe masih terus pendampingan.

Yang Minut tadi juga konsorsium dengan PKSPL IPB. Nanti bisa cek juga di www.blueresilience.org dan nusautara.org. Yang Sangihe juga ada program pertanian organik yang didukung oleh Yayasan Kehati.

Sekarang saya Wakil Direktur Eksekutif Yapeka. Tentang Yapeka bisa cek di yapeka.or.id, yang di Riau bisa cek juga di imbau-rb.org. Yapeka ada tiga pilar, Yayasan, Perkumpulan, dan PT. Saya di Perkumpulan Yapekanya.

Selain sebagai penggiat, saya juga pengamat satwa liar, termasuk burung. Juga sebagai peneliti kupu-kupu. Saya bersanding dengan peneliti kupu-kupu di belahan dunia lainnya. Tahun 2014 dan 2016, kami membuat daftar jenis kupu-kupu di dunia. Saat ini saya juga terdaftar sebagai kontributor Mongabay.

Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help