TribunManado/

Kisah Wanita Pengayuh Rakit di Sungai Bolangitang, Bolmut, Berangkat Pagi, Pulang Jelang Malam

"Saat musim kemarau pendapatan per hari Rp 150 Ribu. Tapi, jika musim penghujan bisa mencapai Rp 200 Ribu."

Kisah Wanita Pengayuh Rakit di Sungai Bolangitang, Bolmut,  Berangkat Pagi, Pulang Jelang Malam
Tribun Manado
Wanita Ini Jadi Operator Rakit Sungai, Kuliahkan Putranya di STAIN Gorontalo 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Warstef Abisada

Tak kenal menyerah. Seperti itulah sikap yang ditunjukkan Hermin Safat, warga Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat, Jumat (25/8).

Setiap hari, wanita berusia 42 tahun ini, menjadi operator rakit  di Sungai Bolangitang yang menghubungkan Desa Keimanga dan pemukiman transmigran Goyo, Desa Ollot II.

"Sejak jam 7 pagi, saya sudah berada di atas rakit. Jika ada warga atau kendaraan roda dua yang ingin menyeberang, saya sendiri yang akan mengoperasikan rakit ini dengan menarik talinya hingga rakit bergerak ke tepi sungai lainnya,'' kata Hermin.

Jika banyak warga yang menyeberang, Hermin bisa bekerja hingga pukul 20.00 Wita malam.

"Saya tidak merasa lelah meski harus bekerja hingga malam hari. Sebab, yang terpenting bagi saya adalah bisa membantu warga lainnya untuk menyeberangi sungai ini,'' tuturnya.

 Sungai Bolangitang memiliki lebar hingga 30 Meter. Karena tak adanya jembatan penghubung yang dibangun pemerintah, maka warga dengan spontan membuat rakit sebagai sarana transportasi, agar bisa menyeberang dengan aman.

"Tak ada jembatan, jadi kami membuat rakit ini agar memudahkan warga untuk menyeberang dari desa satu ke desa lainnya,'' jelas Hermin.

 Rakit yang dioperasikan Hermin sangat sederhana.

Sebab, hanya terbuat dari bambu dengan panjang hingga 7 Meter yang diikat rapat dengan tali.

Halaman
123
Penulis: Warsteff_Abisada
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help