TribunManado/

Cerita Henk Veteran Perang Asal Sukur

Prajurit Heiho Perangi RMS dan Permesta

Seorang pria uzur itu duduk di tambal ban di pertigaan Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara.

Prajurit Heiho Perangi RMS dan Permesta
tribun manado
Henk Mekel saat berada di bengkelnya di Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara, Senin (14/8/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang pria uzur itu duduk di tambal ban di pertigaan Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, beberapa waktu lalu.

DIA lagi menunggu pengendara yang akan memperbaiki ban. Tak banyak yang tahu kalau pria tua itu adalah Henk Mengko Mekel, mantan veteran perang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pria berumur 87 tahun ini sudah makan asam garam peperangan satu di antaranya melawan pemberontak Republik Maluku Selatan (RMS). Dia menjadi saksi mata tewasnya Slamet Riyadi dalam pertempuran merebut benteng Victoria.

Dia adalah salah satu komandan dalam Batalyon Worang yang bersejarah itu.
Dasar dasar berperang diperolehnya selama menjadi anggota Heiho, kesatuan angkatan bersenjata Jepang yang dikenal tangguh dalam medan perang rimba raya. "Saya sudah biasa dengan desing peluru anak muda," kata dia.

Kepada Tribun Manado, Henk menuturkan kisah perjuangannya. Dimulai saat menjadi anggota Heiho pada 1942.
"Jepang mendarat di Kema pada 11 Januari 1942, beberapa di antara kami pemuda Desa Sukur masuk Heiho," kata dia.

Henk menceritakan, latihan Heiho sangat disiplin. Ia mencontohkan, untuk mandi, hanya diberi waktu lima menit. "Selesai mandi instruktur mencium badan prajurit, jika tidak bau sabun akan ditampar, cara tamparnya lain yaitu dengan punggung tangan belakang," kata dia.

Latihan berat lainnya, ujar dia, adalah mengangkat batang kelapa. Prajurit yang terlihat lemah akan dicambuk dengan rotan. "Baju pasukan Heiho keras seperti kain terpal," bebernya.

Henk mengakui, didikan Heiho amat mempengaruhi cara pandangnya sebagai prajurit. "Waktu saya jadi komandan, saya selalu berada di depan, itu gaya tentara Jepang, kalau Knil didikan Belanda, komandannya berada di bagian belakang," kata dia.

Jepang pergi, Belanda kembali, Henk memutuskan membela tanah airnya.
Ia terlibat dalam peristiwa 14 Februari.

Peristiwa itu begitu membekas bagi Henk dikarenakan dua anak buahnya gugur.
"Perlawanan terjadi serempak di sejumlah tangsi, mereka gugur di tangsi KNIL Girian, gugurnya kedua prajurit itu diperingati dengan pendirian monumen veteran di kompleks Pasar Girian," beber dia.

Halaman
12
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help