TribunManado/

Kisah Veteran Perang asal Minut, Pertahankan Kemerdekaan Hingga Saksi Tewasnya Slamet Riyadi

"Saat berjuang dulu kami tidak membeda-bedakan suku dan agama, nanti tahu dia Kristen saat meninggal ada kayu salib di atas kuburannya,"

Kisah Veteran Perang asal Minut, Pertahankan Kemerdekaan Hingga Saksi Tewasnya Slamet Riyadi
TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS
Henk Mengko Mekel, veteran perang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Seorang pria bertato memasuki sebuah tempat tambal ban di pertigaan Desa Sukur, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Lagaknya congkak. Ia memaksa pria tua, pemilik tampal ban, segera memperbaiki motornya.

Tak ditanya pria tua itu menghardiknya. Bahkan kemudian mengusirnya. Kegagahan pria tua itu membuat sang pemuda mendadak sopan.

"Sori om," kata pemuda itu sambil menyatukan kedua lengan di dada.

Andai saja si pemuda tersebut tahu siapa si pria tua, niscaya akan bergidik.

Pria tua itu adalah Henk Mengko Mekel, veteran perang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pria berumur 87 tahun ini sudah makan asam garam peperangan di sejumlah palagan, satu diantaranya peperangan melawan RMS. Dia menjadi salah satu saksi mata tewasnya Slamet Riyadi dalam pertempuran merebut benteng Victoria.

Dia adalah salah satu komandan dalam Batalyon Worang yang bersejarah itu. Dasar dasar berperang diperolehnya selama menjadi anggota Heiho, kesatuan angkatan bersenjata Jepang yang dikenal tangguh dalam medan perang rimba raya.

"Saya sudah biasa dengan desing peluru, anak muda," kata dia.

Halaman
1234
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help