TribunManado/

Berkah Bongkar Muat di Pelabuhan Labuan Uki Dapat Upah Rp 1 Juta Selama Seminggu

Sudah sekitar 20 tahun Dahlan Tahumil (43) dan Masi Simon (42) menjadi buruh bongkar muat kapal di Pelabuhan Labuan Uki, Bolaang Mongondow.

Berkah Bongkar Muat di Pelabuhan Labuan Uki Dapat Upah Rp 1 Juta Selama Seminggu
FINNEKE WOLAJAN
buruh bongkar muat kapal di Pelabuhan Labuan Uki, Bolaang Mongondow. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Sudah sekitar 20 tahun Dahlan Tahumil (43) dan Masi Simon (42) menjadi buruh bongkar muat kapal di Pelabuhan Labuan Uki, Bolaang Mongondow.

Bongkar muat bukan pekerjaan yang mudah, bagi mereka yang tak biasa bekerja kasar. Tapi bagi Dahlan dan Masi, pekerjaan ini tak lagi memberatkan mereka.

Telapak tangan para buruh terlihat kasar. Tak heran, muatan yang mereka angkut bukan barang yang ringan. Ada kapur, ada semen bahkan sampai pada kepingan-kepingan besi.

Pantauan Tribun, proses angkutan kapal yang bersandar di pelabuhan ini dimulai dari alat berat yang mengangkut barang dari dalam kapal. Di samping kapal sudah menunggu para buruh yang siap mengangkut. Mereka tampak membawa gerobak kecil. Muatan ini menuju ke mobil truk.

Selama seharian mereka bolak-balik di area pelabuhan ini. Jika mengangkut kapur atau semen, debu bertebaran di mana-mana. Belum lagi panas terik yang membakar kulit para buruh.

Setiap bulan ada tiga kapal yang bersandar. Ada 100 buruh yang terbagi pada empat koperasi yang bergantian mengangkut muatan kapal. Para buruh mendapat upah tiap bongkar muat.

Dahlan Tahumil berkata, dalam seminggu mereka bisa mendapat upah Rp 1 juta. Satu kelompok yang terbagi 25 orang gotong royong mengangkut barang yang bisa sampai ribuan ton.

Para buruh biasanya menyelesaikan muatan hingga satu minggu kerja. Mulai dari siang hingga sore bekerja. Tergantung cuaca, jika cuaca sedang tak baik, bisa satu minggu lebih.

"Kami diupah per kapal. Pokoknya kerja selama seminggu, biasanya dapat Rp 1 juta. Kalau hitung-hitung setiap orang bisa angkut ratusan ton selama seminggu itu. Kan muatannya bisa sampai puluhan ribu ton," ujarnya.

Rahman dan Masi menghidupi istri dan anak mereka hanya dengan pekerjaan ini. Sekali-kali jika tak ada kerjaan, mereka melaut. Keduanya mengaku akan terus bekerja selagi mampu.

"Yah kerjanya hanya ini, mau kerja apa lagi. Apalagi saya sudah dari dulu bekerja sebagai buruh. Jadi kerjanya ya ini saja," unar Masi. (fin)

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help