TribunManado/

BSG Raup Fee Based Income Rp 35 M, Perbankan Optimistis Tatap Paruh Kedua 2017

Pertumbuhan fee base income Bank SulutGo mengalami peningkatan sebesar 66 persen.

BSG Raup Fee Based Income Rp 35 M, Perbankan Optimistis Tatap Paruh Kedua 2017
HERVIANSYAH
Direksi Bank SulutGo memaparkan kinerja perseroan pada paruh pertama 2017 beberapa waktu lalu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pertumbuhan fee base income Bank SulutGo mengalami peningkatan sebesar 66 persen. Untuk itu bank pembangunan daerah tersebut akan lebih meningkatkan pendapatan tersebut.

Direktur Utama Bank SulutGo, Jeffry Dendeng, mengatakan, hingga Juni 2017 Bank SulutGo membukukan pendapatan Rp 32,7 miliar. Sedangkan pada Juni 2016 sebesar Rp 19,7 miliar.

Katanya, pada semester II 2017, pihaknya lebih berkonsentrasi untuk meningkatkan pendapatan fee base income dengan berbagai inovasi produk yang dilakukan. "Sehingga akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menjadi nasabah di Bank SulutGo," ujar Dendeng, Minggu (6/8).

Dengan berbagai produk inovatif, diharapkan nantinya nasabah tidak hanya menabung saja di Bank SulutGo. Melainkan juga bertransaksi untuk berbagai hal. Apalagi saat ini Bank SulutGo telah mengarah ke digital, sehingga fitur-fitur semakin menarik.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut, Elyanus Pongsoda mengatakan mendorong Bank SulutGo agar terus meningkatkan kinerja, terutama dalam Pengumpulan DPK maupun penyaluran kredit. Dengan memberikan porsi yang lebih besar lagi kepada kredit produktif. "Mengenai cabang digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitan panduan melalui surat No.S-98/PB.1/2016 kepada bank yang berniat membuka cabang digital," jelasnya.

Jeffry Dendeng mengungkapkan setelah pencapaian kinerja gemilang di semester I 2017, dia berharap di semester II 2017 semakin meningkat, dengan berbagai strategi yang dilakukannya. "Kami optimis untuk semester II 2017 semakin baik lagi,"ungkapnya.

Sementara, Kepala Cabang Utama PT Bank Central Asia (BCA) Manado, Felicia Lily Kata dia pertumbuhan ekonomi Sulut yang didorong oleh sektor pertanian, perdagangan dan jasa bisa lebih meningkat dari semester sebelumnya. "Kami berharap semester II 2017 meningkat lagi pertumbuhannya," katanya.

Untuk komoditas cengkih dan kopra serta lainnya diharap semakin bergairah lagi perdagangannya. Katanya, beberapa waktu lalu cengkih harganya stagnan. Sedangkan kopra meskipun harganya meningkat namun demikian perdagangannya masih kurang baik.

Begitu pula dengan perikanan yang masih belum bergairah. Apalagi faktor cuaca masih sering memengaruhi hasil tangkapan nelayan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Soekowardojo mengungkapkan dalam Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan (KEKR) Sulut pada kuartal III 2017 pertumbuhan ekonomi Sulut antara 6,3-6,7 persen. Dengan faktor pendorong antara lain konsumsi, investasi, dan ekspor.

"Untuk konsumsi sejalan dengan peningkatan kinerja pertanian dan gaji ke-13 ASN serta festival pariwisata pada September 2017," ungkapnya. Sedangkan untuk investasi didukung realisasi belanja modal pemerintah dan investasi swasta seperti pembangunan gedung perbelanjaan. (erv)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help