TribunManado/

Regional Meeting on Terrorism in Manado

Manado Tuan Rumah Regional Meeting Penanggulangan Teroris

Kota Manado menjadi tuan rumah rapat koordinasi bertajuk sub regional meeting on foreign terrorist fighters and cross border terrorism.

Manado Tuan Rumah Regional Meeting Penanggulangan Teroris
Dok. TRIBUN MANADO
Wiranto ke Sulut 

Laporan Wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menjadi tuan rumah rapat koordinasi (rakor) bertajuk sub regional meeting on foreign terrorist fighters and cross border terrorism (SRM FTF-CBT), pada Sabtu (29/7/2017).

"Kegiatan ini digelar Kementrian koordinator Bidang politik hukum dan keamanan. Kedatangan tamu dalam rangka Sub Regional Meeting Penanggulangan Teroris hari ini menggunakan pesawat Garuda. Pukul 17.35 Wita Menpolhukam Wiranto, Head Of Delegation Malaysia. Pukul 22.45 Wita, Kepala BNPT dan Head of Delegation Philipina," jelas Clay Dondokambey Kepala Biro (Karo) Umum Setdaprov Sulut, pada Kamis (27/7/2017).

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan rapat koordinasi tentang kesiapan pelaksanaan SRM FTF-CBT, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi yang membicarakan masalah melawan terorisme di kawasan Asia Tenggara.

"Acara ini akan dilaksanakan di Manado pada tanggal 29 Juli 2017 selama dua hari, yang kita undang negara-negara yang berada di kawasan perairan Sulu yaitu New Zealand, Australia, Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, dan Indonesia sebagai host tuan rumah," kata Menko Polhukam Wiranto.

Dikatakan, materi dalam pertemuan tersebut difokuskan pada bagaimana mempelajari anatomi, kondisi, situasi yang terjadi di Filipina Selatan untuk bersama-sama menanggulanginya.

Ditegaskan bahwa semua negara di Asia Tenggara sepakat untuk tidak mau wilayahnya dijadikan sebagai basis baru dari ISIS.

"Maka yang kita lakukan adalah perbincangan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk melawan kegiatan-kegiatan ISIS di Filipina Selatan dan di perairan Sulu. Apakah kita akan masuk pada wilayah cyber nya, apakah kita masuk wilayah keleluasaan kegerakannya dengan patroli maritim bersama. Apakah kita tukar menukar informasi dan pengalaman, apakah kita bersama-sama melakukan pembelajaran bagaimana fighter terrorist yang kembali ke wilayah masing-masing negara, apakah kita mencoba memotong jalur-jalur logistiknya. Itu semua kita akan rundingkan di sana," urainya.

Wiranto mengingatkan Indonesia dikenal sebagai negara yang dapat melakukan langkah-langkah cukup efektif dalam melawan terorisme. Indonesia mendapatkan apresiasi karena tidak hanya melaksanakan dari sudut hard approach yaitu dengan langkah-langkah tegas dan keras, tetapi juga dengan cara soft approach.

"Di hulu kita cegat dengan operasi soft approach, pembinaan dan deradikalisme. Dibina untuk kemudian menjadi kekuatan untuk kembali melawan aksi-aksi terorisme. Itu yang membuat Indonesia saat ini mendapatkan apresiasi dari negara-negara lain," kata dia.

Hadir dalam rakor tersebut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Komjen Pol Suhardi Alius, Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin, Sekretaris Kemenko Polhukam Mayjend Yoedhi Swastono, Deputi Koordinasi Politik Luar Negeri Lutfi Rauf, Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Irjen Pol Carlo Brix Tewu, serta kementerian dan lembaga terkait.
 

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help