TribunManado/
Home »

Video

Inilah Angka 'Cantik' Seputar Kegiatan Penahbisan Uskup Manado

"Lalu delapan menjadi angka historis. Itu saat saya diumumkan sebagai uskup dan ditahbiskan."

Inilah Angka 'Cantik' Seputar Kegiatan Penahbisan Uskup Manado
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW
Prosesi penahbisan Uskup Manado Mgr Benedictus Esthepanus Rolly Untu, pada Sabtu (8/7/2017) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Beberapa peristiwa di seputar Keuskupan Manado beberapa hari terakhir ini ternyata melibatkan tanggal cantik baik disengaja maupun tidak. Pemberkatan dan peresmian Pusat Spiritualitas Gunung Karmel, Tampusu yang dilakukan uskup emeritus Joseph Suwatan MSC, di hadiri Kardinal Ribat MSC dan beberapa uskup (termasuk uskup Petrus Timang yang berulang tahun dan dirayakan hari itu) dilakukan tanggal 7 bulan 7 tahun 2017

Temuan itu didapatkan oleh uskup emeritus mgr. Joseph Suwatan MSC saat memberikan sambutan pada acara pemberkatan itu. Peletakkan batu pertama kata romo Yohanes Indrakusuma, pendiri tarekat putri karmel, CSE dan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), mereka yang mengelola tempat itu, dilaksanakan tanggal 11 bulan 11 tahun 2011

Pastor Revi Tanod, mengatakan pemberkatan dilakukan pada pukul 11 pagi lewat 11 menit dan itu bisa terjadi dalam ribuan tahun. Uskup Rolly Untu diberitahu sebagai uskup terpilih oleh Nuntio dilakukan 8 April 2017 dan ia ditahbiskan pula pada tanggal 8 Juli 2017.

Pada misa pertama di paroki Katedral, uskup Rolly menemukan bahwa misa pertama di tanggal 9 Juni 2017 dihadiri sembilan uskup tanpa disengaja. Kesembilan uskup itu itu uskup Sinaga, Sakril, Pidyarto, uskup Weetebula, Uskup Bandung, Uskup Emeritus Blasius, uskup Keuskupan Kupang, uskup Emeritus Suwatan, dan dirinya sendiri.

"Lalu delapan menjadi angka historis. Itu saat saya diumumkan sebagai uskup dan ditahbiskan," katanya.

Selain kata makna dalam angka, semua memiliki banyak makna teologis maupun spiritual. Uskup emeritus Suwatan dalam khotbahnya di pemberkatan Gunung Karmel Tampusu itu awalnya mengangkat soal Kitab Wahyu.

"Memang tidak mudah memahami apa yang diungkapkan Kitab Wahyu, di sana diceritakan tentang Gunung yang tinggi di mana Yerusalem turun. Kiranya tempat ini yang sebuah bukit menjadi tempat di mana 'Yerusalem turun' di mana kuasa Allah hadir memberikan tertib kehidupan dalam suasana hening dan meditasi," katanya.

Di situ kata-katanya tersirat harapan kemuliaan Tuhan menyinari. Terang dan cahaya itu masuk ke kedalaman lubuk hati dan tumbuh berkembang.

"Kita datang ke tempat ini untuk sedikit mengundurkan diri dari keramaian, hening mendekatkan diri kepada Tuhan pada tempat yang indah. Kita diajak untuk mengalami kasih karunia seperti kata Yohanes," katanya.

Dalam perjamuan malam terakhir katanya diungkapkan pengalaman Kesatuan Tuhan Yesus dengan umatnya. Ia berharap orang yang datang di tempat itu boleh mengalami kehadiran Allah.

Halaman
12
Penulis: David_Manewus
Editor: Fransiska_Noel
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help