TribunManado/

LSM Amerika-Australia Sediakan Air Bersih di Likupang

Sejumlah desa di Kabupaten Minahasa Utara masih kekurangan air bersih. Berbagai rupa cara dilakukan warga.

LSM Amerika-Australia Sediakan Air Bersih di Likupang
tribun manado
Aktivis LSM Learn To Live menyiapkan profile tank di Kampung Ambong, Minahasa Utara, Jumat (14/7). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Sejumlah desa di Kabupaten Minahasa Utara masih kekurangan air bersih.
Berbagai rupa cara dilakukan warga untuk memperoleh air. Mulai dari menampung air hujan, menggali sumur dalam hingga menempuh perjalanan belasan kilometer untuk mencari air isi ulang.

Keadaan itu menggugah sejumlah pemuda dari Amerika dan Australia yang tergabung dalam LSM Learn To Live untuk membantu penyediaan air bersih di desa.

Jumat (14/7) alat pengolahan air hujan menjadi air minum untuk SD Inpres Desa Kampung Ambong hasil karya para pemuda ini diresmikan Bupati Minut Vonny Panambunan.
Selain peresmian diadakan pengobatan gratis yang dilakukan oleh sekira 30 dokter dan perawat dari Amerika Serikat dan Australia.

Kisah para pemuda ini begitu mengharukan.
Mereka rela meninggalkan kemapanan negara modern untuk turun ke desa terpencil demi membantu warga mengatasi masalah air bersih.
Hal itu dilakukan dengan setulus hati tanpa memperhitungkan materi yang diterima.

Elizabeth, warga Amerika mengatakan, ia adalah lulusan sebuah universitas arsitek di Amerika.
Tawaran pekerjaan banyak datang, namun ia memilih bekerja untuk warga miskin. "Saya pilih pekerjaan ini, ini cita -cita saya," kata dia.

Diakui Elizabeth, tak mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan kampung terpencil yang penuh kekurangan.
Seperti di Kampung Ambong, air susah, buang air tak mudah. "Namun jiwa melayani mengalahkan segalanya," kata dia.

Dia mengaku nyaris meneteskan airmata ketika melihat puluhan siswa SD minum air dalam peresmian tersebut.
Elise, warga Australia, mengaku terpaksa berjauhan dengan keluarga demi turun ke sejumlah desa di pesisir Minut.

Sedih, namun ia menguatkan hati demi cita-citanya. "Ini sudah jadi obsesi saya yakni hidup bersama dengan warga miskin di daerah terpencil," kata dia.

Salah satu kendala, beber dia, adalah kesulitan jaringan di daerah terpencil hingga sulit internetan. "Namun alam Minut yang indah menghibur saya," ujarnya.
Yanti Turang, pengurus LSM menyatakan, lembaganya sudah enam tahun menyelenggarakan program tersebut di sejumlah desa. "Mengapa Minut karena di sini banyak warga masih kekurangan air," kata dia.

Sebut Yanti, alat pengubah air hujan jadi air minum harganya hampir Rp 120 juta.
Alat itu dirangkai oleh sebuah tim yang terdiri dari berbagai ahli. "Seterusnya akan ada ahli teknologi pada warga setempat," kata dia.

Bupati Minut Vonny Panambunan mengapresiasi upaya LSM tersebut.
Ia berharap upaya itu juga akan dilakukan di desa lainnya. Pemerintah sendiri, kata Vonny, punya program penyediaan air bekerja sama dengan PT MSM.
"Kita punya program itu, alangkah baiknya jika upaya pemerintah ini mendapat dukungan dari swasta," kata dia.*

CARI AIR
* Menampung air hujan
* Menggali sumur yang dalam
* Menempuh perjalanan belasan kilometer untuk mencari air isi ulang

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help