TribunManado/

Aktivitas Malam 'Hidup' Lagi di Lorpo

Sempat vakum dua tahun, aktivitas di Lorong Popaya (Lorpo) di Kota Bitung hidup kembali. Kali ini dengan tampilan beda.

Aktivitas Malam 'Hidup' Lagi di Lorpo
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi pelajar jual diri. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Sempat vakum dua tahun, aktivitas di Lorong Popaya (Lorpo) di Kota Bitung hidup kembali. Kali ini dengan tampilan beda. Transaksi seks komersial berlangsung di tempat, namun eksekusi dilakukan di tempat lain.

Dulunya eksekusi berlangsung di sejumlah bangunan di lorong itu. Para wanita tunasusila (WTS) di bawah umur adalah wajah baru Lorpo.

Ada yang masih berumur 15 tahun.
Dulunya Lorpo identik dengan WTS "matang".
Tribun Manado melakukan penelusuran di tempat itu pekan lalu.

Aktivitas dimulai pukul 23.00 Wita. Mereka nongkrong di sepanjang lorong itu. Udara kala itu cukup dingin, oleh hujan rintik-rintik dan angin yang berembus cukup kuat, datangnya dari arah pelabuhan.
Namun mereka cukup kebas meski hanya mengenakan pakaian minim seperti rok mini dan ada beberapa hanya baju setali.

Penerangan dari lampu jalan tak sempurna.
Bangunan eks Lorpo lama sesekali menyeruak dari kegelapan.
Sambil menunggu korban, para PSK bercakap-cakap satu sama lain. Cakap diselingi canda.

Satu dua memilih menyendiri, sambil memencet ponsel. Perhatian sontak teralih pada warga yang lewat lorong itu. "Om Rp 300 jo, diskon itu," kata beberapa perempuan, Kamis (13/7) malam.
Mereka mendekat pada warga yang berhenti.
Ketika si warga calon pelanggan memilih satu perempuan, lainnya menjauh dengan muka cemberut.

Ada yang merutuk. Selanjutnya terjadi transaksi antara si perempuan dan warga itu. "Kami biasa main di hotel atau tempat kos," kata seorang perempuan yang enggan namanya dikorankan.
Wanita yang mengaku pemain lama membeber, alasan mereka nongkrong di Lorpo karena tempat itu sudah jadi 'branding' seks.

"Meski di sini sudah tak ada bangunan esek -esek namun tetap memiliki magnet, bagi penyuka seks tempat ini masuk pada list pertama," kata dia.
Ia membeber, tempat itu tetap seramai dulu.

Dalam sehari dia bisa melayani hingga dua pelanggan.
"Jika ramai bisa empat hingga lima," kata dia.
Diungkapnya, belakangan WTS di Lorpo kian bertambah. Banyak pemain baru yang umumnya berasal dari wilayah Minahasa.

"Ya itu karena Lorpo sudah terkenal hingga jadi tujuan para wanita," kata dia. Di antara mereka yang baru, sebut dia, ada yang masih berusia 15 tahun.
Perempuan milenial -sebutannya bagi WTS ini -akrab dengan gawai hingga lebih terampil memakai gawai dalam menjerat pelanggan.

Halaman
12
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help