TribunManado/

ASN Mengaku Terbebani Iuran Asuransi

Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) Pemerintahan Kota Bitung mengaku diintimidasi pimpinan untuk mengikuti asuransi.

ASN Mengaku Terbebani Iuran Asuransi
Tribun Manado
Heboh! Alarm Bencana Berbunyi, ASN Bitung Panik 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) Pemerintahan Kota Bitung mengaku diintimidasi pimpinan untuk mengikuti asuransi.

Pimpinan mengancam bakal mencatat nama-nama ASN yang tidak ikut asuransi. "Kami dipaksa harus ikut," kata seorang ASN yang enggan disebut namanya, Rabu (12/7).

ASN tersebut menganggap ikut asuransi itu mubazir sebab ia sudah ikut asuransi lain serta BPJS. Ikut asuransi itu juga buang uang. "Harus potong gaji lagi Rp 150 ribu per bulan," kata dia.
Sebut dia, sebelumnya gajinya sudah banyak terpotong. Salah satunya oleh iuran Korpri yang tak jelas pertanggungjawabannya itu. "Jangan persulit lagi kami," kata dia.

ASN lainnya mengaku trauma iuran dana Korpri menjadikannya skeptis dengan pengumpulan uang seperti asuransi tersebut. "Sekarang saja uang kami tidak tahu ke mana, jangan sampai uang yang dikumpul kali ini bernasib sama," kata dia.
Asisten I Bitung Oktavianus Tumundo membantah adanya paksaan kepada pegawai untuk ikut asuransi. "Tak ada paksaan," kata dia.

Tumundo menyebut Pemkot bermaksud mempermudah ASN dengan mengikutkannya dalam asuransi tersebut.
Sebut dia, asuransi itu berbiaya Rp 500 ribu per bulan, namun ASN hanya membayar 150 ribu per bulan. "Ini demi mereka juga," kata dia.

Sekkot Bitung Audi Pangemanan menyebut program asuransi itu memiliki banyak manfaat untuk ASN yang mau ikut. "Jangan dulu berpikiran negatif," kata dia.
Selidiki dana Korpri
Sejumlah ASN mendukung upaya Polres Bitung membongkar kasus dugaan korupsi dana iuran Korpri 2013 -2016.

"Harus diusut, karena uang itu ada miliaran rupiah namun tidak tahu ke mana," kata seorang ASN di satu dinas.
ASN pria itu mengaku tiap bulan menyetor Rp 50 ribu selama hampir tiga tahun. Selama ini, kata dia, dana iuran itu tak jelas pemanfaatannya.
Diketahui, Selasa (4/7) Polres memeriksa sepuluh ASN dari sejumlah instansi.
Mereka dipilih secara acak.

Informasi yang dihimpun Tribun, dana iuran Korpri tersebut dipotong dari gaji sekira 3000 an ASN di Bitung. Pemotongan bervariasi antara 30 hingga 100 ribu rupiah sesuai golongan. Kasus itu terbongkar setelah pihak Inspektorat melakukan pemeriksaan.

Mereka mendapati ketekoran kas hampir 2 miliar. Tak lama setelah pemeriksaan itu terjadilah kasus pencurian di kantor Sekretariat Korpri Bitung.
Anehnya pencuri hanya menggasak sejumlah dokumen. Pencurian itu lantas dihubungkan dengan terbongkarnya kasus itu.

Sumber Tribun membeber, uang itu dipinjamkan atas perintah seseorang.
Yohan Kuhu, Sekertaris Korpri waktu itu enggan mengomentari kasus itu.
Kasat Reakrim Polres Bitung AKP Afrisal Nugroho mengaku masih sementara Pulbaket.
"Saya tak bisa jelaskan banyak," kata dia. *

STORY HIGHLIGHTS
* ASN menganggap ikut asuransi itu mubazir sebab ia sudah ikut asuransi lain serta BPJS
* ASN lainnya mengaku trauma iuran dana Korpri menjadikannya skeptis dengan pengumpulan uang seperti asuransi
* Asisten I Bitung Oktavianus Tumundo membantah adanya paksaan kepada pegawai untuk ikut asuransi

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help