TribunManado/

Memprihatinkan! Tak Pernah Dapat Bantuan, Oma Mahorlin dan Suaminya Tinggal di Gubuk Reyot

Kala hujan tiba, mereka harus berpindah posisi ke bagian yang tak bocor agar tak basah. Kondisi dapur lebih parah lagi, atapnya telah bocor semuanya.

Memprihatinkan! Tak Pernah Dapat Bantuan, Oma Mahorlin dan Suaminya Tinggal di Gubuk Reyot
TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Kondisi rumah milik oma Mahorlin Kalase (69) dan suaminya, warga Motongkad Selatan Bolaang Mongondow Timur sungguh memperihatinkan 

Laporan Wartawan Tribun Manado Vendi Lera

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Selasa (11/7/2017) siang, Mahorlin Kalase (69) warga Desa Motongkad Selatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) ditemani sang suami Hayat Marapil (72) sedang memarut singkong di dapur rumahnya.

Raut keduanya tampak bahagia kendati keadaan hidup mereka menggambarkan situasi sebaliknya. Singkong telah menjadi makan pokok mereka sehari-hari. Ketidakmampuan mereka menjadikan beras seolah menjadi makanan langka.

Keadaan rumahnya sangat memperihatinkan dan tak layak huni. Dinding papan sudah lapuk dimakan usia, atap daun rumbia pun sudah banyak yang bocor.

Udara masuk melalui celah-telah tersebut, terasa menusuk tubuh. Namun apa daya, ketidakmampuan mereka terbiasa dengan kondisi tersebut.

Hidup Mahorlin Kalase (69) dan suaminya, warga Motongkad Selatan Bolaang Mongondow Timur sungguh memperihatinkan
Hidup Mahorlin Kalase (69) warga Motongkad Selatan Bolaang Mongondow Timur sungguh memperihatinkan (TRIBUNMANADO/VENDI LERA)

"Malam terasa dingin karena udara masuk melalui lubang, begitupula hujan. Saya dan suami harus berpindah tempat," ungkap Mahorlin.

Suaminya pun mengganti beberapa atap yang bocor dengan seng bekas yang didapat dari orang lain. Sedangkan dinding yang bocor hanya dapat ditutup kain dan poster.

Kala hujan tiba, mereka harus berpindah posisi ke bagian yang tak bocor agar tak basah. Kondisi dapur lebih parah lagi, atapnya telah bocor semuanya. 

Untuk menyambung hidup mereka, wanita sepuh ini bekerja mencuci pakaian milik orang lain. Sang suami tak bisa diharapkan untuk bekerja, usia yang sudah tua membuat suaminya sakit-sakitan.

"Memang rumah ini dibangun hampir 20 tahun lalu, jadi kayu dan atapnya sudah banyak bocor. Tidak ada uang untuk memperbaiki lagi," tambah Hayat.

Mereka tak menerima bantuan pemerintah. Beras sejahtera pun tak lagi mereka rasakan sejak tahun lalu. Satu-satunya bantuan pemerintah yang mereka miliki adalah kartu sehat untuk berobat gratis.

 Sangadi Motongkat Selatan Ishak Damopolii mengatakan, keluarga Marapil-Kalase tersebut harusnya mendapat bantuan rumah tinggal dari pemda Boltim. Namun, urung diterima karena lahan tempat tinggal bukan milik mereka.

"Saya sudah pernah turun ke sana, melihat langsung kondisi rumah mereka," katanya.

Dia akan berupaya membangun rumah kedua lansia tersebut melalui anggaran pemberdayaan masyarakat dalam dana desa.

Penulis: Vendi Lera
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help