TribunManado/
Home »

Opini

Percaya atau Tidak, Suatu Saat Tempat Buang Sampah Akhir Ada di Laut atau di Langit

Tak heran bila pemerintah akhirnya mengatakan bahwa kapasitas TPA sudah tak mencukupi dan harus ada daerah baru untuk menumpuk sampah.

Percaya atau Tidak, Suatu Saat Tempat Buang Sampah Akhir Ada di Laut atau di Langit
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW
Pesisir Teluk Manado bak 'lautan' sampah. Arus sungai yang meluap membawa sampah menumpuk di titik ini. 

SAMPAH adalah musuh. Paradigma inilah yang selama ini menghambat sehingga sampah selalu saja menjadi persoalan.

Menjadi persoalan karena sampah menciptakan citra negatif terhadap satu daerah. Dulu, waktu masih bernama 'Ujung Pandang', Makassar diancam akan diganti namanya menjadi 'Ujung Sampah' karena memang sampah adalah persoalan besar yang sepertinya tidak pernah dapat ditanggulangi.

Hakikatnya sampah adalah konsekuensi dari perkembangan peradaban manusia. Penambahan jumlah penduduk berarti pula menambah konsumsi sekaligus menambah jumlah produksi sampah.

Bayangkan, sekitar dua dekade silam kita belum mengenal popok instan sintetis. Bayi-bayi dan balita masih dibalut dengan popok kain yang selalu selalu dicuci dan selalu dipakai; tidak seperti popok instan yang harus dibuang. Tak hanya bayi, orangtua pun kini sudah menggunakan popok.

Contoh lainnya, dulu pedagang di pasar membungkus ikan yang dibeli dengan daun pisang, sekarang harus dengan kantong plastik.

Kita tidak dapat menentang perkembangan peradaban. Sebagai 'buah' dari perkembangan itu, kita tidak akan pernah bisa 'berperang' dengan sampah. Dalam hal ini, kita tidak bisa lagi menganggap sampah sebagai barang buangan yang tidak berguna.

Konsekuensi dari paradigma sampah adalah musuh, kita tetap saja membuang sampah kemudian petugas sampah datang mengumpulkan, mengangkut, dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Fakta ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah kita hanya memindahkan sampah dari rumah, kantor, pusat perbelanjaan, ke satu tempat tertentu dan terus menumpuk. Tak heran bila pemerintah akhirnya mengatakan bahwa kapasitas TPA sudah tak mencukupi dan harus ada daerah baru untuk menumpuk sampah.

Bila begini terus, dalam satu titik waktu tertentu di masa depan kita akan menjadikan laut atau kawasan udara sebagai tempat sampah karena TPA di darat sudah tidak cukup lagi. Apakah ini akan terjadi? Bisa saja, bila kita tetap menganggap sampah sebagai musuh.

Sebenarnya kita sudah tahu mengelola sampah secara tepat. Pemilahan sampah adalah cara yang sudah berulang-ulang disosialisasikan tapi sangat sulit diterapkan. Bahkan, sampah yang sudah dipililah pun pada akhirnya disatukan kembali di TPA.

Kehadiran bank sampah juga menjadi solusi bagus mengatasi sampah. Di tingkat rumah tangga atau lingkungan, buangan sudah diproyeksikan menjadi uang. Sampai saat ini cara ini tidak populer. Hanya para pemulung dan pebisnis sampah kelas elite yang mampu meraup rupiah dari buangan masyarakat.

Bila dua cara di atas sulit diwujudkan, yang paling dasar sebenarnya adalah tidak membuang sampah di tempat sembarang. Bila cara paling dasar ini tidak dilakukan, jangan harap lingkungan, sungai, dan laut akan bersih.

Apalagi jangan berharap penduduk akan mampu memilah sampah dan menciptakan bank sampah. Bila sudah begini, daerah ini memang layak disebut 'ujung sampah'. (*)

Penulis: maximus conterius
Editor: maximus conterius
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help