TribunManado/

Bukit Dekat Pinasungkulan Dibom, Anak-anak Menangis Ketakutan

Tak hanya warga Marawi selatan Filipina atau Mosul Irak yang ketakutan dengan bom, masyarakat di Pinasungkulan.

Bukit Dekat Pinasungkulan Dibom, Anak-anak Menangis Ketakutan
tribun manado
Warga menunjukan dinding gedung yang retak di Pinasungkulan, Kota Bitung, Senin (3/7/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Tak hanya warga Marawi selatan Filipina atau Mosul Irak yang ketakutan dengan bom, masyarakat di Kelurahan Pinasungkulan Tinerungan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung merasakan hal serupa.

Ledakan keras mengguncang kampung itu saban hari. Bunyi ledakan memekakkan telinga.
Bumi berguncang hebat.
Dinding, lantai serta atap rumah bergetar.

Warga kampung pun bergegas keluar rumah, membawa anak atau barang yang bisa disambar.
Tempat yang dituju adalah jalan raya yang dianggap aman dari bahaya longsor.
Meski begitu mereka harus menutup hidung karena debu tebal dipicu ledakan itu serta bau belerang.

Bunyi ledakan itu berasal dari sebuah bukit berjarak hanya sekira 200 meter dari kampung.
Di sana, sejumlah petugas dari PT MSM dan TTN tengah meledakkan bukit untuk mencari emas.

Anak-anak terutama balita mengalami ketakutan. Alfian Sumolang seorang warga menyatakan, anaknya Maichelangelo yang masih berusia 2 tahun dilanda trauma akibat keseringan mendengar bunyi ledakan.
"Setiap ledakan ia menjerit histeris, berusaha mencari perlindungan," kata dia. Sebut Alfian, trauma anak ini bermula dari suatu ledakan keras beberapa bulan lalu.

Kala itu ledakan terjadi bersamaan dengan bunyi sirene. "Dia berlari ketakutan seperti orang kehilangan jiwa saja, untung saya cepat turun dari lantai atas, kalau tidak ia bisa celaka," kata dia. Untuk memastikan ledakan sebagai penyebab trauma si anak, ia memutuskan merekam perilaku si anak kala ledakan bom. Ponsel sudah disediakan, namun bom tidak berbunyi sesuai jadwal pukul 12.00 Wita.

"Saya matikan ponsel lalu tiba tiba terdengar bunyi bom, saya buru buru pasang ponsel dan merekam, ia sangat ketakutan, menjerit, menangis sambil berlari kesana kemari," kata dia.

Alfian menakutkan sang anak terkena penyakit jantung karena keseringan mendengar bom.
Sebut Alfian, anak anak lain juga tersiksa dengan bunyi ledakan.
Seorang anak, kata dia, sampai mengalami sakit panas tinggi. "Ia sangat ketakutan hingga memicu demam," kata dia.

Lina warga lainnya menyebut anak balitanya selalu menangis tiap pukul 12.00. Si anak rupanya telah hafal waktu ledakan. "Dia selalu katakan Mama se pahit jo tu bom, pahit itu adalah ucapannya jika hendak menyebut sesuatu yang harus dilawan," kata dia.

Selain anak anak, bunyi ledakan juga mengancam orang tua serta berpenyakitan jantung.
Alfian membeber, seorang nenek pernah tewas diduga karena mendengar bunyi ledakan keras. "Ia memang sedang sakit, kala makan bunyi bom terdengar dan ia langsung tewas," kata dia. Memang belum dipastikan apakah nenek itu meninggal karena bunyi ledakan. Namun yang pasti, kata dia, perusahaan memberikan santunan sebesar Rp 5 juta. "Biasanya hanya 500 ribu," kata dia.

Halaman
123
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help