TribunManado/

Diskusi Literasi For Self Transformation: Literasi Adalah Kehidupan Kita

"Literasi terjadi ketika kita mengambil sekaleng susu di toko kelontong, atau saat menebus obat di apotek."

Diskusi Literasi For Self Transformation: Literasi Adalah Kehidupan Kita
Istimewa
Peserta diskusi literasi for self transformation di Rumah Kopi Shaad, Manado, Minggu (18/6). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Fadila Bachmid, pendiri kampung literasi Manado menutup acara diskusi literasi for self transformation di Rumah Kopi Shaad, Manado, Minggu (18/6) dengan sebuah kutipan manifesto Perkumpulan Literasi Indonesia #01.

Kutipan itu mengungkapkan literasi berhubungan dengan hidup harian.

"Literasi terjadi ketika kita mengambil sekaleng susu di toko kelontong, atau saat menebus obat di apotek. Literasi terjadi saat kita memeriksa dan memahani jadwal penerbangan atau saat kita membayar tiket parkir," kata gadis yang biasa dipanggil Dila itu.

Baginya, literasi terjadi ketika kita mengisi aplikasi paspor atau saat menggunakan sambungan telepon jarak jauh. Hampir dari setiap elemen kehidupan kita sehari-hari terhubung dengan literasi.

"Ada rangkaian kata, bilangan, angka, setumpuk simbol. Inilah bangunan yang menciptakan dunia kita, literasi adalah kehidupan kita," ujarnya

Kutipan ini merupakan penutup dari diskusi dinamis yang turut dihadiri dokter Taufik Pasiak dan budayawan, Reiner Ointoe dan digagas Kampung Literasi Manado itu. Diskusi juga menghadirkan Haz Algebra, pemerhati sastra.

Haz membawakan materi Don Quitoxote de la hoax; sihir narasi dan hegemoni fiksi. Haz berbicara bagaimana literasi mempengaruhi kehidupan.

Ia menceritakan bagaimana emosi lebih bekerja daripada rasionalisasi. Emosi katanya bisa sembilan puluh persen menguasai dan itu yang terjadi pada kemenangan Anis-Sandi.

Ia juga paham dengan paham orientalis. Barat memberikan rasa inferior melalui literasi dan membangun mitos kolektif lewat pencerita.

Hoax baginya sebuah sihir narasi. Setiap bacaan memiliki itu. Adanya sihir narasi tidak berpatokan pada narasi-narasi besar.

"Kita suka membacanya. Pengarang cerita mempengaruhi orang. Pengarang seperti penyihir mempengaruhi," katanya.

Taufik Bilfaqih, ketua Lesbumi Sulut, mengatakan orientalisme harus dibangun. Orang Dayak dan orang Minahasa harus menulis sejarahnya sendiri. "Kita ditulis dari dari sisi orang Barat," katanya.

Menurutnya, timur dicitrakan primitif. "Kita berlawanan dengan realitas," ujarnya. (Tribun Manado/David Manewus)

Penulis: David_Manewus
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help