TribunManado/

Wacana Palestina dan Israel Jadi Satu Negara, Mungkinkah Terjadi?

Tapi sebenarnya, pilihan mana yang lebih realistis? Satu negara di mana orang Palestina dan Israel tinggal bersama, atau dua negara merdeka?

Wacana Palestina dan Israel Jadi Satu Negara, Mungkinkah Terjadi?
digdipblog.com
ilustrasi palestina-israel 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bagi warga Palestina tanggal 5 Juni 2017 kemarin menandai ulang tahun "Perang Enam Hari" atau juga disebut "Naksa", sekaligus peringatan 50 tahun pendudukan Israel.

Sementara itu, hingga saat ini banyak pihak berpendapat bahwa solusi terbaik dari krisis soal 'negara' adalah membentuk dua negara. Itu satu-satunya solusi terbaik bagi orang-orang Palestina dan Israel bisa hidup dalam damai. Tapi apakah mungkin bisa dua negara merdeka itu berdiri?

Di sisi lain, ada juga wacana yang menyatakan bahwa warga Palestina dan Israel bisa saja tinggal bersama dalam satu negara. Bisa hidup berdampingan dengan rukun dalam satu kewarganegaraan. Kalaupun terealisasi kemungkinan akan muncul problem baru, apa nama negaranya?.

Tapi sebenarnya, pilihan mana yang lebih realistis? Satu negara di mana orang Palestina dan Israel tinggal bersama, atau dua negara merdeka?

Seperti di lansir Al Jazeera, Gideon Levy, seorang jurnalis dan penulis Israel langsung menyatakan sikap apatisnya, menurutnya solusi menjadikan satu negara atau ada dua negara adalah omong kosong.

"Saya percaya bahwa tidak ada lagi solusi yang layak untuk sebuah negara Palestina merdeka. Kita harus menghadapi kenyataan, dan kesepakatan mengenai solusi dua negara itu kosong." ujar Levy

Sementara itu dari Ramallah, mantan juru runding Palestina dan anggota Komite Eksekutif PLO Hanan Ashrawi memberikan pernyataan berbeda. Ia mengatakan ada harapan untuk kesepakatan dua negara.

"Ini adalah solusi yang mungkin salah, tapi pada saat bersamaan ini adalah solusi yang disetujui Palestina," kata Ashrawi.

"Israel secara sistematis menghancurkan solusi dua negara, Itulah masalah sebenarnya."

Di sisi lain, Lara Friedman, presiden Yayasan Perdamaian Timur Tengah, telah menyebut solusi satu negara sebagai sebuah fantasi.

"Solusi dua negara bukanlah solusi ideal bagi siapa pun, ini bukan solusi sempurna ... kami menganggapnya sebagai satu-satunya opsi pragmatis," kata Friedman.

Yousef Munayyer, seorang penulis dan analis politik Palestina-Amerika yang percaya bahwa solusi dua negara itu telah mati.

"Apa yang kita miliki saat ini ... adalah masalah satu negara, bukan masalah dua negara," kata Munayyer, yang juga direktur eksekutif Kampanye Hak-hak Palestina di AS.

"Kami memiliki satu negara dan muncul konflik, karena ada penolakan mendasar terhadap hak dasar rakyat Palestina." (*)

Penulis: Charles_Komaling
Editor: Charles_Komaling
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help