TribunManado/

Pemuda Paslaten Terpaksa Dipasung Ibunya

Sepintas terlihat biasa saja. Tidak ada yang mencolok dari sosok Robby Manampiring, warga Desa Paslaten.

Pemuda Paslaten Terpaksa Dipasung Ibunya
TRIBUNMANADO/FIONALIS WATANIA
Robby Manampiring terpaksa dipasung karena mengalami gangguan kejiwaan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Sepintas terlihat biasa saja. Tidak ada yang mencolok dari sosok Robby Manampiring, warga Desa Paslaten, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan ini.

Sambil duduk jongkok di bagian belakang rumah, dia sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan Masye Tombokan, ibunya. Namun jika diperhatikan, di bagian kakinya terpasang rantai putih yang sudah berkarat dan diikutkan pada batang pohon yang besar.

Pemasungan ini memang terpaksa dilakukan Masye sejak dua tahun lalu. Bukan tanpa alasan, kondisi kejiwaan Robby yang sering membahayakan nyawa seorang lain membuat sang ibu terpaksa mengambil keputusan tersebut.

Dikisahkannya, dulu putranya adalah pria yang biasa saja. Tapi sejak menderita penyakit malaria tropika pada lima tahun silam, kondisi kejiwaannya terganggu. "Kalau dilepas dia sering memberontak dan menghancurkan barang bahkan sasarannya adalah orang terdekat," katanya.

Dia mengaku harus mengikhlaskan kepergian suaminya beserta keponakan yang baru berumur tiga minggu karena kondisi pria yang berusia 39 tahun ini yang sangat tidak labil pada saat itu. "Saya sendiri hampir kena waktu amarahnya meledak," kata dia. Lanjut Masye, tak mudah untuk membuat Robby diam. Saat baru pertama kali dipasung, dia langsung memberontak dan mencoba merusak barang termasuk tempat tidur yang sengaja diletakkan di bagian belakang rumah.

Perlahan-lahan setelah beberapa waktu dirantai, kondisi Robby sudah mulai tenang. Lebih jauh Masye mengatakan, sudah pernah membawa anaknya yang sulung tersebut untuk berobat di rumah sakit jiwa. "Hanya dua bulan karena terkendala biaya. Saya tidak memiliki pekerjaan, sedangkan suami kedua saya hanyalah berkebun," ujarnya.

Biaya yang dikeluarkan sangatlah tinggi untuk sekali ambil resep misalnya Masye harus merogoh kocek sebesar Rp 100 ribu lebih. Dengan pemakaian tidak sampai sebulan. Yang hanya ditanggung oleh Kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah makan dan perawatan inap sedangkan obat harus dibayar.

Untuk itu, dia berharap ada bantuan dari pemerintah melalui dinas terkait yaitu Dinas Sosial (Dinsos).
"Memang tahun lalu Dinsos sudah memberikan bantuan berupa sembako. Yang kami harapkan kalau bisa untuk obat yang dikonsumsi juga gratis sehingga meringankan biaya perawatan dan dia sembuh kembali," kata dia. *

STORY HIGHLIGHTS
* Pemasungan ini memang terpaksa dilakukan Masye sejak dua tahun lalu
* Tapi sejak menderita penyakit malaria tropika pada lima tahun silam, kondisi kejiwaannya terganggu
* Kalau dilepas dia sering memberontak dan menghancurkan barang bahkan sasarannya adalah orang terdekat

Penulis: Fionalois Watania
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help