TribunManado/

Kyai Modjo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Kyai Modjo dikenal sebagai guru spiritual sekaligus panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa yang berlangsung tahun 1825 hingga 1830.

Kyai Modjo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Makam Kyai Modjo. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kyai Muslim Muhammad Kalifah atau Kyai Modjo akan diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional oleh provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Tim Pengkaji Penilai Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Sulut yang diketuai Sekprov Edwin Silangen kembali mengusulkan pemberian gelar pahlawan kepada Kyai Modjo.

"Beliau diusulkan sebagai pahlawan Nasional dari Provinsi Sulut. Sehingga memuluskan itu terus melakukan persiapan agar semakin dimampukan untuk merealisasikan usulan gelar pahlawan nasional bagi tokoh bangsa, Kyai Modjo," ujar dr Grace Punuh Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulut Rabu (17/5/2017)

Katanya, tim menilai keberadaan tokoh pejuang kemerdekaan yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

"Dalam eksistensinya merupakan elemen penting yang sangat menentukan keberhasilan bangsa dalam meraih, mempertahankan bahkan mengisi kemerdekaan," jelasnya.

Dia menyebutkan semua bangsa yang merdeka di dunia, pasti menghargai perjuangan para pendahulunya.

"Ini juga sebagai penghormatan atas peran Kyai Modjo dalam sejarah peradaban bangsa. Upaya merealisasikan gelar pahlwan nasional yang sedang diupayakan saat ini harus diperjuangkan dan didukung bersama," kata dia.

Pemerintah Provinsi Sulut berharap agar anggota TP2GD mampu menyajikan dan menuangkan konsep pemikiran konstruktif untuk merekonstruksi nilai-nilai perjuangan dan ketokohan Kyai Modjo.

"Pengkajian ini harus secara orisinal dan utuh agar bisa menghasilkan kajian yang dapat menunjang pemberian gelar kepahlawanan bagi Kyai Modjo," tukasnya.

Prof Ishak Pulukadang pengagas gelar pahlawan nasional bagi Kyai Modjo itu mengaku optimis usulan tersebut dapat berjalan lancar.  "Semua syarat administrasi pasti dilengkapi. Data-data pendukung pun lengkap," ungkapnya.

Katanya, sosok Kyai Modjo juga telah memenuhi persyaratan khusus menjadi pahlawan nasional yang diatur dalam undang-undang nomor 20 tahun 2009, tentang gelar, tanda jasa, dan tanda tehormatan.

"Seperti yang disyaratkan undang-undang yaitu pernah melakukan perjuangan bersenjata, tidak pernah menyerah dan perjuangan bersifat luas tidak hanya di satu daerah," imbuhnya.

Kyai Modjo dikenal sebagai guru spiritual sekaligus panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa yang berlangsung tahun 1825 hingga 1830. Pada tahun 1828, Kyai Modjo kemudian dibawa ke Batavia dan tahun 1829 beserta 63 orang pengikutnya diasingkan Belanda sebagai tahanan politik ke kampung Jawa Tondano.

Akhirnya, Kyai Mojo meninggal di tempat pengasingan pada tanggal 20 Desember 1848 dalam usia 84 tahun. Makam Kyai Modjo terletak di perbukitan Desa Wulauan, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa.

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help