TribunManado/

Dilema Petani Cap Tikus Sulut

Petani Cap Tikus Kena Getah Miras Pemicu Kriminalitas 

Kapolda saat itu, Brigjen Pol Dicky Atotoy menyebut program ini dilakukan karena miras adalah pemicu utama kriminalitas di Sulut.

Petani Cap Tikus Kena Getah Miras Pemicu Kriminalitas 
Tribun Manado/Finneke Wolajan
Petani cap tikus memproduksi minuman yang disuling dari nira enau di Tomohon, Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu. 

Laporan wartawan Tribun Manado, Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Agustus 2012, Kepolisian Daerah Sulawesi Utara dengan tegas memerangi minuman keras dengan mengeluarkan program Brenti Jo Bagate (Stop Minum Minuman Keras). Kapolda saat itu, Brigjen Pol Dicky Atotoy menyebut program ini dilakukan karena miras adalah pemicu utama kriminalitas di Sulut.

Dari tahun ke tahun, kriminalitas karena miras terus mendominasi kasus yang ada. Data terakhir di Polda Sulut menyebut tahun 2016 lalu ada 802 kasus yang dipicu miras. Yang dianalisa dapat berdampak ke kasus lainnya seperti penganiayaan berat maupun kekerasan dalam rumah tangga.

Kasus terbanyak kedua dalam tahun 2016 adalah penganiayaan berat yang mencapai 550 laporan. Hasil analisa polisi, penganiayaan berupa penikaman hingga pembunuhan yang terjadi juga dilatarbelakangi miras.

Polda Sulut dan jajaran pun rutin menggelar razia miras di tiap lokasi. Miras berbagai merek terjaring dan tak jarang pula polisi merazia cap tikus yang tak berizin, baik dalam jumlah besar, maupun kecil.

Pada 17 Desember 2016 lalu misalnya, Polsek Ratatotok menggagalkan menyelundupan 2.200 liter cap tikus di Pelabuhan Ratatotok. Pada 5 November 2016 juga, Polsek Tombatu mengamankan 1.675 liter cap tikus yang dirazia di sebuah desa. Dua kasus yang terjadi di Minahasa Tenggara ini hanya dua di antaranya banyaknya razia polisi yang menjaring minuman keras jenis cap tikus.

Perang terhadap miras pun membuat Pemerintah Sulawesi Utara mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 yang mengatur tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol. Meski saat ini masih dalam proses revisi, namun kepolisian dengan tegas menjalankan Perda Miras ini.

"Perda Miras masih tetap diterapkan. Ancamannya memang hanya enam bulan, tapi Perda Miras masih tetap kami jalankan," ujar Kapolda Sulut Irjen Pol Bambang Waskito, Senin (6/3) lalu.

Perang polisi terhadap minuman keras ini menghantui petani cap tikus. Jika terus-terusan seperti ini, banyak petani cap tikus bisa kehilangan mata pencaharian mereka yang telah dijalankan selama puluhan tahun lamanya.

"Saya saja was-was jika ingin berjualan. Takut kena razia polisi. Tapi untung di kebun, tak ada razia polisi. Hanya pada pengecer. Selama ini beruntung saya tak pernah kena razia," ujar Musa Karamoy.

Senada dikatakan Wenny, petani cap tikus asal Tondano, Minahasa yang sudah 30 tahun menjadi petani cap tikus. Ia mengaku resah jika razia polisi pada cap tikus terus-terusan terjadi.

"Nanti petani seperti saya dan lainnya kehilangan mata pencaharian. Kalau seperti ini ya kami meminta solusi bagusnya bagaimana. Karena terus terang saja, saya akan terus membuat cap tikus untuk menghidupi keluarga. Memang lebih menguntungkan cap tikus dibandingkan membuat gula aren," ucapnya.(fin)

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help