TribunManado/

Harga Cap Tikus Anjlok Petani Minta Bantuan Pemerintah

Kelompok Petani Aruy Desa Talaitad Utara mulai merasakan dampak turunnya harga Cap Tikus mereka berharap pemerintah segera turun tangan

Harga Cap Tikus Anjlok Petani Minta Bantuan Pemerintah
NET
Ilustrasi petani menyadap nira untuk diolah menjadi minuman keras cap tikus.

  
Laporan wartawan TRIBUN MANADO Fionalois Watania

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Kelompok Petani Aruy Desa Talaitad Utara mulai merasakan dampak turunnya harga Cap Tikus mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk membantu mereka. H

al ini disampaikan langsung oleh Reagen Lantang, Ketua Kelompok Tani kepada Tribun Manado, Minggu (7/5). "Harga cap tikus beberapa bulan belakangan ini untuk satu galon tidak sampai Rp300 dengan ukuran 25 liter. Dulunya pernah mencapai Rp1 juta," ungkapnya.

Untuk itu dia dirinya bersama kelompok berputar otak untuk tetap bertahan menjual produk daerah tersebut. "Kami mulai berpikir untuk mengembangkan produk Cap Tikus menjadi produk rumah tangga lainnya seperti bahan bakar dan pembuatan kosmetik," katanya. Namun dikatakannya untuk menghasilkan produk yang baru membutuhkan  alat penyulingan alkohol teknis.

"Semoga pemerintah dapat memberikan bantuan alat. Karena yang kami lihat peluangnya sangat besar. Karena selalu digunakan setiap orang," ujarnya. Dia menambahkan jika menggunakan alat maka produksi akan lebih cepat dan kualitas produk pun akan terjamin kualitasnya.

Lanjut Lantang, dirinya cukup khawatir untuk kelangsungan kehidupan petani cap tikus kedepan jika harga terus anjlok. "Bagaimana kami mau menyekelohkan anak-anak jika harga terus turun," terangnya.

Diwawancara terpisah, Hukum Tua Desa Talaitad Utara,  Ventje Mangindaan mengatakan sekitar 70 persen warga bekerja sebagai petani cap tikus. "Di desa kami ada perkebunan pohon seho. Sehingga warga manfaatkan untuk diproduksi produk olahan berupa cap tikus dan gula merah," kuncinya. (Tiw)

Penulis: Fionalois Watania
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help