TribunManado/
Home »

Opini

Editorial

Favorit

Sekolah-sekolah yang 'biasa-biasa' saja akhirnya tersisih karena kekurangan murid. Siswa diborong oleh sekolah favorit.

Favorit
TRIBUNMANADO/ALDI PONGE
ilustrasi 

BAGI sebagian orangtua menghadapi ajaran baru bukanlah perkara mudah. Bagi mereka yang anaknya akan masuk SD, SMP, atau SMA, tak hanya memikirkan bagaimana mengongkosi si buah hati, tapi juga harus memutar otak untuk memilih sekolah.

Siapa yang tak mau anaknya belajar di sekolah favorit? Biarpun jarak sekolah dengan rumah jauh, kalau ada kesempatan, sang anak tentu harus melakoninya. Demi prestise, orangtua kadang juga tak peduli dengan kondisi anak. Yang penting sekolah favorit.

Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di tempat favorit, namun dampaknya bukan hanya bagi anak. Sekolah-sekolah yang 'biasa-biasa' saja akhirnya tersisih karena kekurangan murid. Siswa diborong oleh sekolah favorit.

Hal tersebut merembet kepada pengajar di sekolah-sekolah biasa yang kekurangan siswa. Mereka kekurangan jam mengajar sebagai satu di antara syarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.Ya, kalau mengambil Teori Chaos, hal tersebut layaknya 'efek kupu-kupu'. Merembet.

Nah, saat bersilaturahmi dengan kepala sekolah se-Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) di Pandopo Rumah Dinas Bupati setempat, Senin (24/4), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mewacanakan, penerimaan siswa baru ajaran 2017/2018 akan menggunakan sistem zonasi.

Belum ada informasi lebih lanjut tentang sistem zonasi ini. Mengutip Antara, Muhadjir menjelaskan, sistem zonasi untuk mangatasi pelajar untuk berburu masuk ke sekolah-sekolah favorit yang jauh dari tempat dia berdomisili atau keluar dari daerahnya.

Menurut dia, semua sekolah harus menjadi favorit. "Dengan cara zonasi itu dapat mengatasi timbulnya sekolah favorit," kata Muhadjir.

Dia menambahkan, "Nanti kita akan menggunakan sistem zonasi atau sekolah pakai zona. Maka tidak boleh ada siswa di dalam zona itu yang tidak diterima, apapun alasannya. Apalagi pakai tes."

Satu di antara konsekuensi dari penerapan zonasi ini, nilai evaluasi belajar murni atau NEM tak lagi patokan. Berdasarkan zonasi, domisili menjadi alasan utama seorang siswa bisa masuk sekolah. Sekolah baik negeri maupun swasta wajib untuk menerima murid-murid baru yang masuk dalam radius zonasinya.

Detail tentang zonasi ini memang masih belum diketahui pasti. Termasuk tentang radius suatu zona. Namun demikian, upaya menteri agar terjadi pemerataan patut mendapat apresiasi. Tinggal kita tunggu detail teknis dan bagaiamana praktik di lapangan.

Sudah jadi rahasia umum, setiap penerimaan siswa baru selalu ada cerita tentang kecurangan. Dengan adanya sistem zonasi ini,-bila memang diterapkan-, kita berharap penerimaan siswa baru bisa jadi lebih fair.

Di sisi lain, sekolah-sekolah 'biasa-biasa' bisa memacu agar lebih berkualitas. Bukan leha-leha karena toh tak perlu berusaha untuk bisa mendapatkan murid, sehingga target mengajar terpenuhi, kemudian pengajar mendapat tunjangan sertifikasi.

Orangtua juga tak lagi menguras otak agar sang anak bisa masuk ke sekolah favorit. Artinya mengurangi dosa karena tidak melakukan kecurangan agar anak bisa masuk sekolah favorit.
Ah, semoga bukan utopia. (*)

Editor: Edi Sukasah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help