Ketua FKUB Bitung Protes Ujian Nasional Paket C SMA Jatuh di Hari Paskah

Jadwal pelaksanan Ujian Nasional Paket C untuk SMA yang jatuh pada hari Sabtu (15/4) dan Minggu (16/4) mendatangkan pertentangan.

Ketua FKUB Bitung Protes Ujian Nasional Paket C SMA Jatuh di Hari Paskah
SURYA
Ilustrasi ujian paket C 

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Jadwal pelaksanan Ujian Nasional Paket C untuk SMA yang jatuh pada hari Sabtu (15/4) dan Minggu (16/4) mendatangkan pertentangan.

Pasalnya Minggu nanti bertepatan dengan Hari Raya Paskah sehingga perlu dicarikan solusi.

"Kami mengecam jadwal pelaksanaan ujian Nasional paket C pada hari Minggu yang bertepatan dengan perayaan Paskah," kecam Pdt Franky P Kalalo MTh ketua Forum kerukunan ymat beragama (FKUB) kota Bitung.

Menurutnya apa yang dilakukan pemerintah seakan tak menghargai perayaan hari raya keagaman. Seharusnya jadwal pada hari Minggu dipindahkan ke hari lain. "Kami di Sulut menolak pelaksanaan tersebut. Jika hal itu tetap saja dilangsungkan kami akan membuat aksi dan pernyataan sikap," tegasnya.

Dia meminta pemerintah mengganti waktunya dua hari sebelum pelaksanaan berlangsung Pdt Lucky Rumopa tokoh Agama Provinsi Sulut menyesal masih lagi terjadi tindakan seperti itu di Negara Indonesia.

"Kalau sudah seperti itu pertanda negara sedang ciptakan suasana tidak kondusif ditengah masyarakat yang beragama," jelas Rumopa. Menurutnya bukan hanya ini yang dilakukan pada hari Minggu banyak rekrutmen pegawai juga dilakukan pada hari Minggu, padahal sudah jelas dalam aturan mengatur waktu untuk kerja hanya Lima hari.

"Kerja cukup sampai hari Jumat dua hari istirahat agar intensitas pekerjaan lebih tinggi dan lebih baik, tukasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Nasional Asiano Gemmy Kawatu ketika konfirmasi mengenai itu mengatakan sudah melakukan upaya untuk menunda tidak pada hari Minggu pada saat Perayaan Paskah. "Suratnya kami kirim ke kementrian Agama namun belum dibalas," kata Kawatu.

Warga masyarakat Sulut Taufik Tumbelaka menilai kebijakan itu sangat aneh menimbulkan kesan asal-asalan. Menurutnya dalam penentuan suatu jadwal yang penting harus melalui beberapa pertimbangan.

"Saya melihat itu salah penjadwalan dalam arti pada saat penentuan jadwal tidak melihat almanak alias kalender. Ini sangat memiriskan terjadi di wilayah pendidikan padahal seharusnya ini wilayah suci," kata dia.

Lagi kata Taufik seharusnya Diknas Sulut harus berani mengambil keputusan karena menyangkut ketenangan dan kenyaman para peserta.

"Mengenai surat balasan dari Kementrian itu soal nanti," tukasnya. Sebelumnya penetapan tersebut berdasarkan petunjuk teknis Kemendikbud.(crz)

Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help