TribunManado/

Jika AS Serang Suriah Lagi, Rusia-Iran Siap Membalas

Peringatan ini dikeluarkan kedua sekutu Suriah itu setelah AS menembakkan 60 rudal tomahawk sebagai "balasan" atas serangan senjata kimia di Idlib.

Jika AS Serang Suriah Lagi, Rusia-Iran Siap Membalas
kompas.com
Asap membubung dari kota Kobani, Suriah setelah serangan udara koalisi pimpinan AS menyerang beberapa posisi ISIS di kota tersebut. Pemandangan ini terlihat jelas dari kota Mursipitnar, Turki. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah Rusia dan Iran memperingatkanAmerika Serikat, mereka akan menggunakan kekerasan jika "garis merah" yang mereka tetapkan dilewati.

Peringatan ini dikeluarkan kedua sekutu Suriah itu setelah AS menembakkan 60 rudal tomahawk sebagai "balasan" atas serangan senjata kimia di Idlib.

"Agresi yang dilakukan AS terhadap Suriah sudah melintasi garis merah. Kini kami akan merespon dengan kekuatan terhadap setiap agresi dari siapapun dan AS tahu kemampuan respon kami," ujar komando gabungan aliansi sekutu Bashar al-Assad.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, serangan terhadap pangkalan udara Shayrat di dekat Homs, Suriah merupakan tindakan yang "mewakili dunia".

Sebab, pangkalan udara itu diyakini digunakan pasukan Suriah untuk menggelar serangan senjata kimia di Idlib yang menewaskan lebih dari 70 orang.

AS bersama Inggris dan Perancis menuduh rezim Presiden Assad menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil di daerah yang dikuasai pemberontak.

Namun, Damaskus membantah dan mengatakan serangan mereka justru menghancurkan persediaan senjata kimia pemberontak di kawasan itu.

Sedangkan kementerian pertahanan Rusia menyebut, serangan udaraSuriah itu merupakan tindakan sah terhadap "teroris" yang memproduksi dan menumpuk persenjataan kimia yang sebagian dikirim ke Irak.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak digelarnya investigasi obyektif untuk mengungkap dalang serangan senjata kimia itu.

Editor: Ribut_Raharja
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help