Renungan Minggu

Renungan Minggu: Meruntuhkan yang Lama

Sarkasme tentang Bait Allah menjadi pengajaran Yesus kepada murid‑murid‑Nya di satu sisi.

Renungan Minggu: Meruntuhkan yang Lama
https://goo.gl/J3P7Mi
Ilustrasi 

Markus 13:1‑13

TRIBUNMANADO.CO.ID - SARKASME tentang Bait Allah menjadi pengajaran Yesus kepada murid‑murid‑Nya di satu sisi. Namun di sisi lain adalah satu tamparan keras bagi kelompok yang berlindung di balik kebesaran Bait Suci dan umat Yahudi pada umumnya.

Bagi Yesus sendiri, Bait Allah itu merupakan gambaran/sketsa tentang apa yang sedang dan akan terjadi atas diri‑Nya.

Meskipun Yesus membawa kebenaran Ilahi, memberitakan wahyu mesianis. Penderitaan Yesus justru dimulai dari dalam Bait Allah sendiri. Permusuhan, kebencian bahkan keinginan untuk membunuh Yesus justru muncul dari para Imam Yahudi, kaum Farisi, kaum Saduki, yang notabene adalah orang‑orang yang selalu ada di Bait Allah

Bukankah mereka yang selama ini telah cukup lama berlindung di balik kebesaran dan kemegahan Bait Allah? Bait Allah menjadi zona teraman dan ternyaman atas bangunan kemunafikan dan ketidakbenaran hidup para Klerus. Apakah hal‑hal ini yang harus diruntuhkan? Mungkin saja.

Yang pasti Yesus mengkiaskan diri‑Nya dengan Bait Allah yang akan diruntuhkan dan dibangun lagi dalam tiga hari. Ini misi‑Nya: runtuh, mengosongkan diri, mati. Kenapa harus melewati jalan ini? Karena Allah ingin menunjukkan betapa berat dan besarnya dosa serta kejahatan manusia; tetapi juga betapa besar dan dahsyat kasih‑Nya. Karena itu, Allah membayar harga, harga yang sangat mahal untuk menebus manusia. Walaupun Allah tidak pernah berhutang, tetapi karya penebusan harus tetap dilakukan.

Sarkasme Bait Allah adalah pertanda bahwa kemegahan Yahudi tidaklah menjadi jaminan bahwa kehendak Allah yang berlaku di dalamnya. Terbukti ketika Yesus mati di kayu salib, pada saat itulah kemegahan Bait Allah, kebanggaan Yahudi diruntuhkan sampai ke dasar‑dasarnya.

Kita bisa melihat betapa ironisnya kenyataan bahwa bangsa yang mengaku sebagai umat pilihan Allah berhasil membunuh seorang Mesias karena menolak ajaran yang dibawa-Nya.

Betapa tragis melihat sebuah bangsa yang dalam kurun waktu yang cukup panjang merasakan nikmat berkat dan pertolongan Allah, akhirnya memilih untuk membebaskan seorang penjahat daripada mengikuti ajaran Yesus. Kemegahan Bait Allah tidaklah menjadi jaminan bahwa orang‑orang yang di dalamnya merupakan pengikut‑pengikut Allah.

Yesus hendak mengingatkan bahwa ketaatan yang sejati bukanlah ketika berdiri megah sebuah bangunan, monumen maupun berbagai tanda fisik lainnya. Ketaatan yang sejati tidaklah serta merta nampak ketika kita melaksanakan berbagai aturan‑aturan gerejawi. Tetapi ketaatan sejati menjadi nyata ketika di dalam persekutuan kita, di dalam status kita sebagai orang percaya, kehendak Allah menjadi satu‑satunya pilihan atau perintah untuk dilakukan.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Rine Araro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help