DPRD Tagih Janji Bangun Talut di Kapoya

Desa Kapoya Kecamatan Suluun Tareran, Minahasa Selatan, Selasa (14/3), baru saja diporak-porandakan banjir.

DPRD Tagih Janji Bangun Talut di Kapoya
FIONALOIS WATANIA
longsor di Desa Kapoya

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Desa Kapoya Kecamatan Suluun Tareran, Minahasa Selatan, Selasa (14/3), baru saja diporak-porandakan banjir dan tanah longsor.

Bencana yang menggenangi ratusan rumah dan merusak puluhan rumah ini membuat warga khawatir.
Mereka bahkan teringat janji pemerintah untuk membangun tanggul penahan banjir di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Desa Kapoya beberapa tahun lalu.

Demikian diungkapkan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minsel, Lexoni Rantung yang juga berdomisili di Desa Kapoya.
Menurutnya, kalau saja Pemerintah Kabupaten sudah membangun tanggul yang dijanjikan, maka dampaknya tidak akan terlalu parah.

"Yang saya ingat, musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) sudah diumumkan langsung kepada masyarakat desa bahwa bantuan dari pusat adalah pembangunan talut penahan banjir di Desa Kapoya. Hal ini berdasarkan pertimbangan dampak banjir yang cukup parah di desa kami yang terjadi pada tahun 2013. Namun sayangnya yang justru dibangunkan talut adalah Desa Kapoya I. Ini menimbulkan tanda tanya, biasanya jika sudah diumukan di Musrembang, maka desa tersebut sudah pasti mendapat bantuan bukan desa lain," katanya.

Dia menyesali karena proyek yang bernilai Rp 600 juta tersebut akhirnya dibangun di desa lain. "Desa kami yang pertama dilewati aliran sungai Kapoya, seharusnya yang dibangun terlebih dahulu talut dari sini. Kemarin bencana banjir kembali terjadi dan merendam 13 rumah. Rumah-rumah di sepanjang DAS memang sangat rendah. Sehingga membutuhkan tanggul pengaman," ujarnya.

Dia mengaku sempat menanyakan langsung ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) namun dijanjikan akan dibangun pada tahun lalu, namun hingga sekarang belum dibangun. "Saya harap agar BPBD segera bertindak. Jangan hanya melakukan pendataan saja pada bencana baru-baru ini. Lihat dampaknya yang terus-menerus terjadi. Desa kami bahkan sempat terisolir karena longsor. Timbunan tanah menghalangi akses jalan desa dan jalan kebun ke kabupaten," terangnya.

Hukum Tua Kapoya Marten Sondakh Laoh membenarkan terkait hal tersebut. "Masyarakat juga senang karena BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) sudah mengumumkan bahwa pembangunan tanggul di desa ini. Namun bantuan sama sekali belum masuk. Bahkan dari Provinsi pernah datang mengecek terkait program tersebut karena yang mereka tahu penerima bantuan adalah Desa Kapoya," tuturnya.

Dia mengaku hampir setiap tahun selalu memasukan proposal ke BPBD. "Pada saat mengecek, BPBD mengatakan sudah diimasukkan ke Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) pada tahun ini ternyata ketika saya baca, tidak ditata di APBD," ungkapnya. Dia berharap agar pembangunan proyek talut setidaknya dilakukan pada APBD perubahan nanti karena takut dampak banjir akan semakin parah karena cuaca yang tidak menentu. *

STORY HIGHLIGHTS
Desa Kapoya yang pertama dilewati aliran sungai Kapoya, seharusnya yang dibangun talut lebih dulu
* Dijanjikan akan dibangun talut pada tahun lalu, namun hingga sekarang belum direalisasi

Penulis: Fionalois Watania
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help