TribunManado/

Liando Sebut Kekalahan PDIP di Pilkada Sangihe Jadi Pelajaran

Mengemban status sebagai petahana membuat posisi Ompa sebutan Makagansa sangat kuat.

Liando Sebut Kekalahan PDIP di Pilkada Sangihe Jadi Pelajaran
IST
Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Unsrat, Dr Ferry Liando.

Laporan wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kekalahan PDI Perjuangan pada Pemilukada langsung di Kabupaten Kepulauan Sangihe atas calon yang usung Golkar dan Hanura, menurut DR Ferry Liando pengamat pemerintahan dan politik Sulut menjadi pelajaran berharga untuk partai yang diketuai Olly Dondokambey.

"PDIP jangan jadi oligarki, kearifan lokal harus di hormati," kata Liando, Jumat (17/2). Figur atau calon yang diusung PDIP untuk posisi calon Bupati HR Makagansa tepat.

Mengemban status sebagai petahana membuat posisi Ompa sebutan Makagansa sangat kuat.

"Mengapa kalah? sepertinya masyaramat Sangihe dilecehkan dengan dipaksakannya calon wakil Bupati pasa Fransiscus Silangen, padahal masih banyak kader bagus dan potensial di Sangihe," kata dia.

Dimata warga Sangihe figur Fransiscus Silangen bukan representasi warga, karena faktor tak besar di tanah Mahalasa sehingga popularitas calon tidak menjamin meraih kemenangan. Atas faktor itu para elit partai tidak boleh memaksakan kehendak warga. "Saya melihat papan dua Ompa di Sangihe seakan dipaksakan," tambahnya.

Pelajaran kedua yang harus di petik PDIP adalah incunbent itu tidak selamanya menjamin. Liando memberikan contoh calon yang diusing PDIP pada Pilkada Minut adalah incunbent raih kegagalan.

"Kalau incunbent itu berprestasi maka akan mudah untuk meraih kemenangan namun jika kepemimpinan incunbent tidak memuasakan maka Pilkada akan menjadi arena penghakiman," sebutnya. Hal ketiga yang menjadi pelajaran PDIP adalah berusaha sebisa mungkin memberdayakan kader partai jangan terbiasa tiba saat tiba akal.

Dalam tubuh PDIP banyak kader yang telah malang melintang dan terombang-ambing oleh perjuangan membangun parpol namun ternyata itu tidak menjamin manakala ada ruang rekrutmen pejabat publik seperti menjadi calon kepala daerah.

"Di Bolmong, Yasti yang adalah kader PAN menang bukan karena PDIP yang mencalonkan beliau tetapi karena militan sehingga kader PDIP dalam membela Yani Tuuk yang adalah kader asli PDIP. Jika saja bukan Yani yang disandingkan dengan Yasti bukan tidak mungkin apa kader militan PDIP berpaling dan tidak menyatakan dukungannya," jelasnya.

Terlepas dari berbagai kekuarangan namun yang paling baik jika PDIP berani mengusung kader sendiri, terutama bagi kader yang telah lama berjuang membesarkan partai. "Jika ini diabaikan maka PDIP akan mengalami kegagalan ketiga, keempat dan seterusnya di Sulut," pungkasnya.

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Rine Araro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help