TribunManado/

Balai Karantina Pertanian Manado Musnahkan Cabai Asal Cina

Balai Karantina Pertanian kelas I Manado memusnahkan benih cabai seberat 50 kg dan sayuran kering seberat 30 kg asal Cina

Balai Karantina Pertanian Manado Musnahkan Cabai Asal Cina
benih cabai. foto ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Balai Karantina Pertanian kelas  I Manado memusnahkan benih cabai seberat 50 kg dan sayuran kering seberat 30 kg asal Cina, Kamis (16/2). Pemusnahan dilakukan langsung oleh Junaidi, kepala Balai Pertanian kelas 1 Manado disaksikan humas bea cukai Manado, Abduh, dan perwakilan Angkasa Pura di incenerator balai itu.

Bea Cukai yang pertama menemukan kiriman ini pada 18 Desember 2016. Abduh mengatakan benih Cabe dan Sayuran kering ini lalu diserahkan kepada Balai Pertanian Kelas 1 Manado, Rabu (28 Desember 2016).

Junaidi mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan adminsitrasi, benih tidak dilengkapi Phytosanitary Certificate (PC) dari negara asal. Surat ini harus menyatakan benih bebas dari penyakit.

"Presiden Jokowi tahu ini karena mebel juga harus punya PC kalau diekspor atau diimpor kecuali besi," katanya.

Karena tak punya PC, benih lalu ditahan. Satu di antara penyakit yang dicegah ialah Erwinia Crysanthemi.

"Itu penyakit yang sudah ditangkal," ujarnya.

Junaidi melanjutkan Andyh, pemilik benih sudah diberi batas waktu 14 hari untuk melengkapi PC dari negara asal. Akan tetapi sampai batas waktu, pemilik tidak dapat melengkapi persyaratan. Surat penolakan agar benih dikembalikan ke negara asal sudah dikeluarkan 19 Januari. Akan tetapi, sampai batas waktu 14 hari kerja tidak dikembalikan, benih dimusnahkan.

Junaidi mengatakan mereka memusnahkan berdasarkan Undang-Undang nomor 16 tahun 1992. Ia mengakui pergerakan yang sangat cepat dan global membuat dunia menjadi tanpa batas. Walau begitu, pergerakan barang dan jasa dibatasi sesuai syarat. Ia mengatakan di bulan Oktober, di daerah lain di Indonesia sempat lolos benih berpenyakit Erwinia Crysanthemi yang tak ada di Indonesia.

"Penyebaran penyakit lebih berbahaya pada inang alternatif (misalnya dari Cabe ke Kelapa) daripada inang utamanya," kata Junaidi.

Menurut Junaidi, dengan adanya penyakit itu, uang triliunan rupiah untuk peningkatan produksi bawang merah dan Cabe di Indonesia menjadi sia-sia. Bagi Junaidi, itu termasuk subversi mengutip Yusril Ihsa Mahendra, ahli tata negara. Pangan yang terganggu bisa mengancam stabilitas negara.

Yang melanggar dan semua yang terlibat menurut Junaidi bisa dijerat hukum pidana. Karena itu walau bernilai jutaan rupiah, masuk Cabai dan Sayuran tanpa PC itu harus diwaspadai.

"Itu bisa menganggu ekonomi lokal," ujarnya.

Andyh, pemilik Cabe dan Sayuran Kering mengatakan Cabe dan Sayuran Kering itu untuk masakan Cina. Junaidi menegaskan biji Cabe bisa terbawa media lain lalu tumbuh bisa digolongkan sebagai benih. (dma)

Penulis: David_Manewus
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help