TribunManado/

Sri Mulyani Pantau Kebijakan Trump

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terus mencermati dinamika ekonomi Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan baru Presiden Donald Trump.

Sri Mulyani Pantau Kebijakan Trump
NET
Sri Mulyani Indrawati.

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terus mencermati dinamika ekonomi Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan baru Presiden Donald Trump. Apalagi ditengarai negeri Paman Sam akan membuat berbagai kebijakan yang proteksionis.

"Kami akan lihat antisipasinya. Kalau pertumbuhannya positif tapi dari kebijakan moneter dan dari sisi kebijakan perdagangannya negatif, maka nett effect-nya ke dunia juga akan kami lihat," ujar Menkeu di Jakarta, Jumat (13/1).

Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, ekspansi perekonomian dan pertumbuhan ekonomi AS yang positif tidak selalu membawa dampak positif kepada dunia bila dikombinasikan dengan berbagai kebijakan yang proteksionis.

Dari awal kampanye, sejumlah rencana proteksi ekonomi sudah Trump sampaikan. Trump sempat berencana renegosiasi NAFTA yang selama ini menjadi pengikat kerjasama perdagangan antara Kanada, AS dan Meksiko.
Selain itu, untuk mengurangi masuknya barang dari Meksiko, Trump berencana membangun pagar di bagian selatan negara itu yang berbatasan dengan Meksiko.

Dengan China, Trump ingin menaikkan tarif hingga 45 persen agar barang-barang dari negara itu bisa dihambat masuk. Berbagai kebijakan itu tinggi berpotensi menghambat perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ekonomi Indonesia juga tergantung pada China. Ketika ekonomi negari Tirai Bambu itu melambat, ekspor komoditas asal Indonesia ke negara itu juga bakal terdampak.

"Oleh karena itu kita bisa mengantisispasi kebijakan moneternya mencoba menetralisir," kata perempuan kelahiran Lampung 54 tahun silam itu.

Pidato Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, Kamis kemarin, yang dinilai tidak memberikan rincian jelas mengenai arah kebijakan ekonomi telah mengecewakan investor.

Indeks dollar pun turun terhadap sejumlah mata uang gara-gara pidato Trump tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, pada Kamis (12/1), kurs dollar AS terkoreksi terhadap beberapa mata uang lain, termasuk rupiah. Pada penutupan perdagangan kemarin, kurs rupiah berada di level 13.281 per dollar AS, menguat dibandingkan sehari sebelumnya di 13.319.

Menurut Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, pidato Trump yang memicu penguatan rupiah justru menjadi kabar baik bagi para emiten yang memiliki utang valas, khususnya dollar AS, dan juga bagi yang memiliki ketergantungan terhadap impor.

"Kalau dollar AS melemah, rupiah menguat, otomatis pengaruhnya positif terhadap emiten di Indonesia yang punya utang dalam dollar AS," kata Nicky.

Editor: Fernando_Lumowa
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help