TribunManado/

Pos Polhut Jadi Tempat Kongko Anak Sekolah, Kemasan Obat Batuk Bekas Berserakan

"Saya khawatir justru digunakan sebagai tempat tempat esek-esek karena. Daripada tak dimanfaatkan lebih baik ditutup saja," tegasnya.

Pos Polhut Jadi Tempat Kongko Anak Sekolah, Kemasan Obat Batuk Bekas Berserakan
TRIBUN MANADO/ALDI PONGE
BERSERAKAN - Pos Polisi Kehutanan di Desa Motongkad yang dipenuhi sampah pembungkus obat batuk. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Pos Polisi Kehutanan di Desa Motongkad Selatan Kecamatan Motongkad Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) kerap digunakan para remaja sebagai tempat untuk menikmati zat adiktif.

Rifky Palengkahu, warga Motongkad, mengungkapkan Pos Polhut jarang digunakan sebagaimana mestinya.

Jarang petugas yang terlihat di pos tersebut. Hal tersebut digunakan para remaja untuk kongko- kongko.

"Pos Polhut itu jarang digunakan. Banyak anak sekolah yang selalu datang ke situ," ujar Rifky, Minggu (11/9).

Dia menambahkan, "Di situ banyak sampah sachet obat batuk, ada ribuan. Berserakan di bagian depan, ruang jaganya dan dua kamarnya. Ada juga botol air mineral yang digunakan untuk minuman beralkohol."

Dia meminta instansi terkait dapat menutup pos tersebut agar tak merugikan semua pihak termasuk generasi muda Boltim untuk menggunakan obat yang mengandung dextromethorpan.

"Saya khawatir justru digunakan sebagai tempat tempat esek-esek karena ada papan di dalam kamar-kamar. Daripada tak dimanfaatkan lebih baik ditutup saja," tegasnya.

Tak hanya itu, pihak sekolah pun diminta melarang siswanya untuk membolos dan berkumpul ditempat tersebut.

"Sekolah harus tegas, ini demi anak-anak Boltim. Jam belajar jangan ada siswa di luar sekolah dan usai sekolah perintahkan agar langsung pulang," ucapnya.

Plt Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Rahman Potale saat dikonfirmasi tak menampik hal tersebut. Pihaknya terus mengunci pos tersebut, namun terus dirusak orang tak bertanggungjawab.

"Ke depan kita akan bekerja sama dengan instansi terkait seperti Pol PP, dinas perhubungan bahkan kepolisian agar bisa memanfaatkan pos posisi di Boltim sebagai pos terpadu," ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Boltim Yusri Dampolii mengaku prihatin akan kondisi siswa saat ini yang banyak menyalahgunakan obat batuk dan ehabon. Pihaknya terus berupaya membendung perilaku dengan menekan sekolah agar mengawasi siswanya.

"Ini butuh peran serta semua pihak, tak hanya guru. Tapi pemerintah desa dan orangtua, sebab sekolah tak bisa mengawasi siswanya 1x24 jam," bebernya.

Dia pun meminta para pedagang agar tak melayani anak-anak yang membeli bahan-bahan tersebut dalam skala besar. (aldi ponge)

Penulis: Aldi_Ponge
Editor: Edi Sukasah
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help