Mangrove di Sidate-Sapa Dibabat

Rindangnya pohon bakau tak terlihat lagi. Ranting-ranting sisa penebangan bakau berseliweran.

Mangrove di Sidate-Sapa Dibabat
NET
Ilustrasi Hutan Mangrove

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Rindangnya pohon bakau tak terlihat lagi. Ranting-ranting sisa penebangan bakau berseliweran. Kayu-kayu mengering berjejer di area litoral.

Itulah kondisi terkini hutan manggrove di pesisir pantai Desa Sapa hingga Sidate, Desa Pakuweru Utara. Kerusakan hutan bakau itu diduga akibat marak penebangan liar.

Informasi yang diperoleh Tribun Manado dari warga di sekitar hutan, malam hari menjadi kesempatan emas bagi para pelaku penebang mangrove.

Warga hanya beraktivitas di sekitar lokasi hutan pada siang. Ketika mereka beristirahat malam hari, waktu itu digunakan para pelaku penebangan pohon bakau.

Demikian diungkapkan Jhoni Tamunu, warga Desa Pakuure Utara. "Mereka tanpa ragu membabat hutan mangrove. Mereka memanfaatkan situasi yang sepi pada malam hari. Aktivitas warga lebih banyak pada siang hari. Kondisi hutan mangrove sangat parah. Bekas penebangan pohon tidak hanya merusak pemandangan, namun juga merugikan banyak orang termasuk para nelayan," katanya.

Dia menambahkan kemungkinan para pelaku penebangan bukan dari warga setempat. Max Lempas, warga lainnya, berpendapat sama.

"Kebetulan rumah saya terletak di pesisir pantai. Yang selama ini saya lihat penghasilan nelayan baik untuk tangkapan ikan, kerang, kepiting dan udang berkurang drastis akibat kerusakan hutan bakau. Mereka mengeluh," kata dia.

Dia mengkhawatirkan jika aksi yang tak bertanggung jawab itu terus dilakukan, dapat memicu terjadinya bencana di kemudian hari.

"Jika ini terus menerus terjadi bisa saja akan menjadi bencana di masa mendatang. Menanggung risiko adalah kami penduduk sekitar," ujar dia.

Hukum Tua Pakuure Utara, Fanny Terok mengatakan, seharusnya instansi terkait (Dinas Kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) lebih meningkatkan pengawasan terhadap kawasan hutan mangrove.

"Selama ini terjadinya pembalakan hutan mangrove di sini karena kurang perhatiannya Dinas Kehutanan dan DKP. Seharusnya di tempat itu dibangun pos pengawasan agar tidak terjadi pembalakan liar. Saya harap pemerintah segera turun tangan," ujarnya.

Kata Kumtua, jarak hutan bakau yang mencapai 1,5 kilometer dengan permukiman warga membuat pembalak leluasa melakukan penebangan.

Kepala Dinas Kehutanan Minahasa Selatan, Frans Tilaar, mengatakan akan menindak tegas oknum yang sengaja melakukan pembalakan liar di kawasan itu. Menurut dia, penebangan mangrove tidak dibenarkan karena akan merusak ekosistem di daerah itu.

"Kawasan hutan mangrove sebagai habitat berkembang biaknya bebagai jenis ikan. Kalau seperti itu, kita akan melakukan patroli dan melihat situasi di lokasi tersebut. Kita sudah sering memberikan imbauan kepada masyarakat jangan pernah menyentuh hutan bakau. Yang pasti dalam kasus ini kita akan buat penindakan dan akan diproses secara hukum," ujar Tilaar. *

Penulis: Fionalois Watania
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved