Peristiwa Merah Putih Kalah Pamor dari Hari Valentine

Peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Februari masih kalah pamor dibanding hari valentine, tak terkecuali di Kota Tomohon.

Peristiwa Merah Putih Kalah Pamor dari Hari Valentine
NET
Ilustrasi

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Februari masih kalah pamor dibanding hari valentine, tak terkecuali di Kota Tomohon.

Padahal, menurut Judie Turambi, pemerhati pemerintahan kota Tomohon peristiwa merah putih merupakan hari bersejarah ketika 70 tahun silam tangsi militer Belanda di Teling (kini markas Kodam) direbut oleh pemuda-pemuda Sulut.

Peristiwa ketika bendera merah putih biru milik belanda disobek warna birunya dan mengibarkan bendera merah putih.

"Peristiwa merah putih di Teling juga punya rentetan yang juga melibatkan pemuda-pmeuda Tomohon," kata dia.

Tepatnya Kamis, 14 Februari 1946 sekitar pukul 03.00 Wita di bawah komando Wangko Sumanti Tangsi militer Teling direbut.

Kemudian sang saka merah putih berkibar dengan megah di angkasa pada saat-saat fajar menyingsing di Bumi Sulawesi Utara

Peristiwa lanjuta pun dilakukan pemuda Tomohon di Kota Tomohon di depan Markas KNIL dengan komandannya De Vries lokasi yang sekarang berdiri SMP RK Gonzaga.

"Penurunan bendera Belanda dilakukan oleh pemuda-pemuda Tomohon yakni Tommy Mantow, Kapojos dan Wowiling. Ketika pemuda asal Paslaten ini, merobek bagian biru bendera Belanda lantas menaikkan Merah Putih," kata Turambi.

Rentetan sejarah ini harusnya diperinganti oleh Pemerintah dan masyarakat dalam menghargai jasa para pahlawan mempertahankan kemerdekaan RI. Perjuangan ini pun menghantarkan salah seorang putra Sulut B W Lapian mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Saat meneliti sejarah perjuangan B W Lapian, Turambi mengatakan, ada sejumlah momen menarik dari peristiwa merah putih tersebut.

Detik-detik sebelum dan pasca bendera Merah Putih berkibar Jam 00.45, semua anggota kelompok penyerbu diberi minum cap tikus sebanyak dua gelas kecil sebagai pemanas badan menghadapi pertempuran.

Sekitar Jam 01.00, aksi heroik dalam malam gelap, sunyi dan senyap di Tangasi Putih Teling dipimpin Runtukahu dan Kotambunan dan pasukannya lalu membebaskan, Taulu, Wuisan, Sumanti dan kawan-kawan dari tahanan sel,

"Menariknya ernyata senjata-senjata di tangan tidak berpeluru," kata dia.

Begitu pun aksi Frans Bisman dan Freddy Lumanauw dengan 2 peleton siap tempur ditugaskan ke Tomohon untuk melucuti Komandan KNIL De Vries sekitar pukul 04.30 , "Ternyata peluru-pelur yang di bawa pasukan tidak cocok dgn senjata Lee Enfield. Pelurunya buatan Jepang," sebutnya mengurai penggalan sejarah peristiwa merah putih. (Tribun Manado/Ryo Noor)

Penulis: Ryo_Noor
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved