TribunManado/

Kasus PTUN Medan, Momentum Refleksi!

Kasus PTUN Medan membuktikan bahwa penegakan hukum di Indonesia seperti mendirikan benang basah.

Kasus PTUN Medan, Momentum Refleksi!
NET
Ilustrasi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Minggu (12/7/2015) Badan Advokasi Hukum (BAHU) DPP Partai Nasdem mengapresiasi dan sekaligus memberi dukungan kepada KPK terkait dengan ditangkapnya Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Medan beberapa hari lalu. Nasdem sangat konsisten melawan segala bentuk mafia hukum yang terus menggerogoti dan juga menghancurkan kewibawaan hukum di Indonesia. Kasus PTUN Medan membuktikan bahwa penegakan hukum di Indonesia seperti mendirikan benang basah. Pernyataan apresiasi dan dukungan tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua BAHU, Hermawi Taslim SH di Jakarta, pada Minggu (12/7).

“Kasus penangkapan ini merupakan bukti bahwa restorasi yang dikumandangkan oleh Partai Nasdem selama ini benar adanya. Nasdem mendukung penuh KPK dan konsisten melawan segala bentuk penghancuran wibawa hukum yang dilakukan oleh para penegaknya sendiri. Dan ini menjawab semua pertanyaan kita, mengapa penegakan hukum di Indonesia diragukan, karena para penegaknya belum sepenuhnya bersih,” tegas Hermawi Taslim.

Dijelaskan Hermawi, berulangkali kewibawaan hukum dirongrong oleh para penegaknya sendiri. Bagaimana hukum bisa ditegakan jika penegaknya merupakan mafia itu sendiri. Penegakan hukum di Indonesia, yang terjadi kemudian, seperti barang langka karena sangat tergantung pada mafia dengan cara kerja konspirasi. Indonesia memang diragukan kredibilitas dalam penegakan hukum karena para penegaknya memberikan contoh yang bertentangan dengan ucapannya.

“Contradictio In Actione – perbuatannya bertentangan dengan yang dikatakan. Ungkapan itu sangat tepat untuk melukiskan penegakan hukum di Indonesia. Di satu sisi berteriak lawan korupsi tetapi pada saat yang sama penegaknya melakukan korupsi. Kasus PTUN ini harus terus ditindaklanjuti, karena melibatkan tokoh-tokoh kunci terutama Ketua PTUN Medan dan sebuah kantor pengacara ternama di tanah air. Bisa jadi kasus ini merupakan rangkaian dari kasus dan permasalahan hukum yg lebih besar dengan melibatkan berbagai pihak yg berkepentingan atas berbagai penyimpangan yg sedang berlangsung. Ini khan sama saja mendirikan benang basah, kalau begini caranya,” ujar Taslim.

Hermawi Taslim, yang juga Koordinator Forum Advokat Pengawal Konstitusi (FAKSI), mengajak Mahkamah Agung (MA) menjadikan kasus PTUN Medan sebagai momentum refleksi. Uji kelayakan (fit & proper test) terhadap para calon hakim tinggi ternyata belum mampu mencegah penyimpangan yang dilakukan para hakimnya seperti yang menimpa Ketua PTUN Medan, Tripeni Irianto. Menurut cerita, Tripeni telah lolos uji kelayakan dengan menempati ranking kedua.

“Keputusan hukum, undang-undang atau peraturan lain sebaik apapun dibuatnya tetap tergantung oleh manusianya. Mungkin yang terjadi di PTUN Medan ini hanyalah kasus gunung es yang ada di MA dan luput dari pantauan. Oleh karenanya sungguh bijaksana, jika kasus ini dijadikan sebagai momentum untuk refleksi di kalangan MA mengingat semua kasus akan berujung pada hakim-hakim yang bertugas. Kita semua harus prihatin dengan kasus ini,” ujar Hermawi. (putut prabantoro)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado online.

Editor: Robertus_Rimawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help