4 Uskup Hadiri Perayaan Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Uskup Manado

Uskup Manado, Mgr Joseph Suwatan merayakan 25 tahun tahbisan menjadi uskup, Senin (29/6/2015).

4 Uskup Hadiri Perayaan Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Uskup Manado
NET
Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan.

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Uskup Manado, Mgr Joseph Suwatan merayakan 25 tahun tahbisan menjadi uskup, Senin (29/6/2015)pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus menurut kalender liturgi Gereja Kristen Katolik Roma. Setelah Peletakan Batu Pertama Emmanuel Catholic Youth Center (venue utama acara pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) se-Indonesia atau Indonesian Youth Day) di belakang Wisma Lorenso Lotta, pertemuan dengan para pastor yang ada di keuskupan Manado, uskup menjadi selebran (pemimpin perayaan) Misa syukur di Graha Gubernuran Bumi Beringin mulai pukul 16.00.

Uskup Ambon Mgr Petrus Kanisius Mandagi MSC, Uskup Kupang Mgr Petrus Turang, Uskup Padang Mgr Martinus Situmorang OFM, Uskup Bandung Antonious Subiyanto OSC menjadi con-selebran (pendamping selebran) perayaan itu. Perayaan itu sendiri dihadiri Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang.

Pastor Petrus Tinangon, dalam renungan mengatakan dalam Injil dikatakan jika menjadi tua, Petrus akan dibawa ke tempat yang ia tidak ia kehendaki. Tapi setelah operasi jantung, seloroh Tinangon justru uskup menjadi lebih muda.

"Dua buku yang menjadi literatur, yaitu Anak Maria tidak akan hilang sekitar enam tahun lalu. Judul buku berasal dari gambar Maria saat uskup masih di sekolah rakyat," katanya.

Tinangon berseloroh putra Maria juga pernah hilang. Yesus putra Maria pernah hilang dan ditemukan kembali.

"Ketika kerusuhan Poso, nyawa uskup terancam. Tapi uskup mengatakan kalau memang demikian terjadilah demikian," ujarnya.

Uskup kata Tinangon mengikuti Rasul Paulus. Paulus menganggap mati menjadi keuntungan.

"Orang yang siap mati akan panjang umur. Karena itu uskup cenderung panjang umur," katanya.

Uskup lanjut Tinangon bersyukur atas penghujat dan yang lain. Uskup merasa Allah mengasihinya.

"Ke kunjungan ke pulau-pulau di Utara, ada pendeta yang salah mendengar marga uskup, ia mendengar seperti setan. Ketika uskup kembali lima tahun berikutnya ia mengatakan setan juga dipilih uskup," ujarnya.

Tinangon mengatakan dalam Injil, kita dipilih buka karena jasanya. Juga tidak dengan kekuatan sendiri.

"Petrus manusia biasa yang dipilih bukan karena jasanya. Petrus penuh kelemahan tapi diberi pengampunan dan cinta," katanya.

Sebagai murid, menurut Tinangon, Petrus tidak membanggakan diri. Ia akhirnya mendapatkan tugas pengembalaan umat dari Sang Guru Yesus.

"Melalui pengalaman itu, akhirnya Petrus mengalami pengalaman akan kasih Allah. Uskup mengambil itu dengan motonya yaitu percaya akan kasih Allah pada kita, atau Credidimus Caritati," ujarnya. (tribunmanado/david manewus)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado online.

Penulis: David_Manewus
Editor: Robertus_Rimawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved