Tajuk Tamu

Berapa Harga Nyawa Manusia?

Kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di Indonesia mengungkap sedikit demi sedikit siapa dan bagaimana pengelolaan uang AirAsia sebenarnya.

Berapa Harga Nyawa Manusia?
Reska K. Nistanto/KOMPAS.com
PK-AXC, Airbus A320-200 yang dioperasikan oleh maskapai Indonesia AirAsia, yang hilang sejak Minggu (28/12/2014). Registrasi PK-AXC bisa dilihat di bagian belakang fuselage (badan) pesawat. Foto diambil pada 7 September 2011 di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. 

Richard Susilo

* Koordinator Forum Ekonomi Jepang-Indonesia
* Berdomisili di Jepang Selama 23 Tahun

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di Indonesia mengungkap sedikit demi sedikit siapa dan bagaimana pengelolaan uang AirAsia sebenarnya. AirAsia mengganti rugi satu nyawa ternyata Rp 25 juta.

Konvensi Montreal yang juga jadi dasar pertimbangan ICAO (International Civil Aviation Organization) memutuskan 113.100 dolar AS sebagai pedoman Airlines dunia. Angka ini berubah terus tetapi bertambah tinggi tidak bertambah turun. Lalu Amerika Serikat memutuskan 170.000 dolar AS. Sedangkan Associated Airline, gabungan beberapa perusahaan penerbangan dunia sepakat mengganti sedikitnya 70.000 dolar AS, kalau kurs Rp.10.000 per dolar AS berarti Rp 700 juta ganti rugi per penumpang yang meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang.

Sebagai catatan, Japan Airlines dan All Nippon Airlines, semua pesawat terbang Jepang rata-rata memberikan penggantian uang penguburan setiap orang sedikitnya 100 juta yen atau sedikitnya Rp 10 miliar.

Itulah sebabnya setiap warga Jepang terutama terkait pekerjaan kantor, ke Indonesia atau ke negara lain selalu menggunakan pesawat Jepang sendiri. Bukan hanya soal nasionalisme, tetapi karena ganti rugi pesawat Jepang paling tinggi di dunia. Amerika Serikat atau negara lain tak ada yang memberikan ganti rugi per penumpang sebesar itu.

Demikian pula asuransi penerbangan Jepang luar biasa. Apabila kecelakaan pesawat terbang, untuk pemindahan korban, perawatan, dan sebagainya, bisa mencapai tidak terhingga. Sebagai contoh, kecelakaan di sebuah tempat, tak bisa mengoperasi atau mengobati, lalu harus dibawa pakai helikopter ke kota lain yang memiliki rumah sakit canggih dan semua pengobatan, maka akan tercover, dibayar oleh pihak asuransi.

Artinya, jiwa seseorang tidak ada batas uang, berapa pun biaya untuk penyelamatan seorang manusia harus dilakukan, tidak melihat uang dulu, tetapi keselamatan dan kesehatan manusia masuk prioritas teratas dari segalanya.

Mungkin terlalu tinggi kalau kita bandingkan dengan negara maju seperti Jepang. Setidaknya uang penguburan mungkin perlu dikonfirmasikan lebih lanjut, setidaknya CEO AirAsia mungkin dapat mengungkapkan sendiri, berapa sebenarnya uang ganti rugi kematian penumpang pesawat tersebut. Apakah benar hanya Rp 25 juta per orang?

Jika benar memang hanya Rp 25 juta per jiwa, maka AirAsia sudah pasti, pertama melanggar Konvensi Montreal dan ICAO dan kedua patut dipertanyakan bagaimana sistem perasuransian di AirAsia itu sebenarnya. Apakah mengasuransikan pesawat dan penumpang dengan baik secara wajar melalui perusahaan asuransi yang profesional? Ini yang mungkin perlu kita pertanyakan saat ini.(*)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved