Tajuk Tamu

Natal, Kembali Bersahabat dengan Alam

Di mana-mana kehangatan Natal sudah sangat terasa. Sambil menyiapkan segala sesuatu, mari kita kembali menengok ke alam di mana kita tinggal dan hidup

Natal, Kembali Bersahabat dengan Alam
NET
Ilustrasi

Natal, Kembali Bersahabat dengan Alam

Yunita Siwi
* Education Officer Yayasan Selamatkan Yaki

TRIBUNMANADO.CO.ID - KESIBUKAN menjelang Natal sudah semakin tinggi. Di mana-mana kehangatan Natal sudah sangat terasa. Sambil menyiapkan segala sesuatu, mari kita kembali menengok ke alam di mana kita tinggal dan hidup. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Allah mempersiapkan segala sesuatu sebelum manusia diciptakan. Alam semesta, binatang dan tumbuhan, diciptakanNya dan semuanya Ia anggap baik (Kejadian 1:25). Allah menciptakan segala jenis binatang liar dan segala jenis binatang ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Kemudian manusia diberikan mandat untuk memenuhi, menaklukkan dan menguasai bumi (Kejadian 1:28). Karena manusia merupakan makhluk yang paling rasional dan bebas, manusia kemudian menafsirkan dan memandang segala sesuatu di dunia ini harus mendukung dia, sehingga pengeksploitasian dan penggunaan sumber daya alam yang ada terus digali sampai sekarang untuk mendukung kehidupannya. Manusia di sini menempatkan diirinya sebagai superior. Pandangan ini kemudian disebut sebagai antroposentrisme.

Sampai sekarang ini pandangan tentang manusia sebagai pusat segala sesuatu terlebih lagi alam semesta masih tetap ada. Ini bisa dibuktikan dengan masih banyaknya ekspoitasi alam yang berlebihan dan dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidup hedonis. Penebangan hutan, penambangan, pembukaan lahan pertanian yang luas dengan mengesampingkan fungsi hutan dan segala makhluk hidup yang tinggal di dalamnya sebagai suatu ekosistem yang utuh, semua dilakukan semata mata untuk "kelangsungan hidup manusai".

Menjelang Natal dan Tahun Baru ini, kita kembali kepada amanat agung yang sudah Tuhan sudah delegasikan kepada kita. Sebagai umat kristiani, adakah satu konsep yang bisa kita pegang dalam menjalankan tugas kita? Jika pada bagian awal manusia menjadi pusat segalanya maka pada bagian ini maka dalam konsep ekoteologi merupakan solusi dari paham di atas. Ekotelogi mengembalikan kembali peran dan tugas manusia dalam mengemban amanat agung yaitu manusia sebagai pusat ciptaan Tuhan yang ditugaskan untuk merawat dengan memperbaiki hubungan antara manusia dengan semua ciptaan Tuhan. Manusia mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk membangun hubungannya dengan alam dan manjaga keberlangsungan alam.

Menyambut Natal, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjalankan amanat agung sebagai pengemban tanggung jawab. Salah satu yang paling sederhana adalah ketika kita mempersiapkan makanan untuk hidangan Natal, alangkah baiknya untuk tidak membeli binatang yang dilindungi, yang hampir punah dan dilindungi oleh undang undang. Banyak jenis binatang liar di khas Sulawesi Utara yang sudah hampir punah namun sayang masih merupakan daging favorit masyarakat Minahasa. Macaca nigra atau yaki, kuse, tembung, babi rusa, anoa adalah binatang- binatang yang hanya ada di Sulawesi yang punya peranan penting bagi hutan.

Sebagai pengikut Kristus, sudah saatnya kita menjalankan amanat agung sebagai penanggung jawab akan kelangsungan bumi. Makna Natal kali ini, mari kita kembali bersahabat dengan alam, menjadi pengikut Kristus yang mencintai alam, dan mencintai binatang liar yang ada di bumi ini khususnya di Sulawesi Utara di mana kita hidup dan tinggal. Kemeriahan Natal biarlah disikapi dengan iman Kristen. Menyediakan hidangan yang bersahabat dengan alam dan mencukupkan segala sesuatu tanpa harus mengeksploitasi alam ini dengan berlebihan. Selamat menyambut Natal, damai Natal melingkupi alam semesta.
"Bersama sama kita selamatkan yaki". Torang jaga yaki karena torang peduli!(*)

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved