TribunManado/

Pemuda Boltim Ini Harus Pelihara Ayam untuk Biaya Daftar Kuliah

Semua kalangan termusuk masyarakat ekonomi kurang mampun berhak mengecap pendidikan di negeri ini.

Pemuda Boltim Ini Harus Pelihara Ayam untuk Biaya Daftar Kuliah
NET
Ilustrasi

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pendidikan bukan hanya milik orang kaya. Semua kalangan termusuk masyarakat ekonomi kurang mampun berhak mengecap pendidikan di negeri ini. Sayang, amanah undang-undang itu, kerap bertolak belakang dengan kenyataan.

BANYAK kisah menyedihkan di negeri ini sering terdengar. Misalnya cerita inspiratif siswa dari keluarga miskin yang berjuang meraih cita-cita yang sering tayang di layar televisi. Kisah perjuangan memperoleh pendidikan juga terlihat di Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Adalah Julianto Mamonto (18), Warga Tombolikat Selatan, Boltim merasakan ketirnya hidup untuk meraih impian. Dia mesti banting tulang hingga akhirnya bisa lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Usai mendengar kelulusannya dari SMA Negeri 1 Tutuyan, dia harus berusaha keras agar cita-citanya belajar bahasa Arab di perguruan tinggi bisa terwujud.

Saat ditemui di rumah orangtuanya, Ju, demikian warga sekitar memanggil remaja tersebut, sedang berada di balik kamar ukuran 2 kali 2 meter. Dalam gubuk ukuran 6 kali 6 meter yang sudah puluhan tahun tersebut hanya dihuni dia dan sang ayah, Hanang Mamonto (54).

Sang ibu telah tiada, setelah menderita penyakit cikungunya pada 2009. Saat itu, Ju baru kelas II Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kakak perempuannya, sejak kematian sang ibu telah tinggal bersama saudara. "Sejak selesai UN (Ujian Nasional), bantu-bantu Papa, kerja di penggilingan padi," ujar Ju didampinginya ayahnya ketika ditemui Tribun Manado belum lama ini.

Pekerjaan inilah yang ditekuninya beberapa tahun terakhir bersama sang Ayah setelah pulang sekolah. Satu-satunya kebun cengkih terpaksa dijual beberapa waktu lalu untuk mengobati ibunya. Cerita pelik tak hanya sampai di situ. Ju mengaku pernah meninggalkan sekolah selama empat bulan ke pertambangan di Namlea hanya demi mencari uang membayar biaya sekolah.

"Saat itu, sudah berapa kali diumumkan diapel, kalau tidak bayar tidak usah datang ke sekolah. Jadi saya nekad ke Namlea mencari uang, padahal saya waktu itu Ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)," kata remaja yang pernah menjadi penyiar radio di Boltim ini.

Setelah mampu mengumpulkan uang, dia pun kembali sekolah bersama teman-temanya. Tak hanya itu, untuk menutupi biaya hidup dan studinya dia harus bekerja menjadi buruh lepas di proyek usai keluar sekolah.

"Saya sebenarnya ingin kuliah di Jakarta. Ada tempat kuliah yang dari Madina, gratis tapi tak tahu caranya ke sana. Sekarang sudah mendaftar secara online di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gonrotalo, rencananya bahasa Arab agar cita-cita jadi ustad terwujud," kata anggota Pasukan Pengibar Bendera (Parkibra) Boltim ini.

Lulus dengan nilai UN 7,3 menjadi modalnya agar dapat masuk ke perguruan tinggi tersebut melalui jalur bidik misi. Dia ingin ke Gorontalo untuk kuliah walau tak ada keluarga di sana. "Sejak tahun lalu saya sudah pelihara ayam, sekarang sudah 20 ekor. Nanti akan dijual kalau sudah mau mendaftar. Ada juga tabungan dari sisa gaji, saat kerja dengan Papa," kata pemenang pertama lomba bahasa daerah di Boltim Expo ini.

Tak tak mau mengala pada hidup, pesan ayah dan almarhum ibunya terus diingatnya walau keadaan hidup keluarga diakuinya miskin. Namun itu tak menjadikan dirinya minder dalam meraih prestasi. Berbagai kegiatan ditekuni seperti pramuka, sanggar seni dan remaja masjid. "Saya selalu bersyukur dengan apa yang saya terima saat ini, tak ada rasa iri. Saya ingat pesan Mama untuk tidak bertengkar dengan kakak. Saya akan tetap kuliah untuk membahagiakan Papa," kata Paraih Uyo Kebudayaan Boltim 2014 ini.

Ayahnya, mengaku bangga dengan anaknya yang tidak merokok dan minum minuman keras. Apalagi sang anak selalu aktif di kegiatan kerohanian dan membantu dirinya. Anaknya selalu masuk 10 besar (juara) di kelasnya. "Sebelum dan sepulang sekolah memasak, kami gantian kalau dia capek dari penggilingan," ucapnya.

Gajinya Rp 50 ribu per hari ditambah upah Ju Rp 30 ribu, tak cukup membiayai hidup yang kian mahal, membiayai studi anaknya. Apalagi merenovasi gubuknya yang berdinding hanya bambu dan beratam daun sagu yang sudah lapuk. "Syukur tahun lalu dapat bantuan renovasi rumah dari Pemda. Namun dananya belum cukup jadi tak selesai dindingnya. Jadi malam-malam dingin karena hanya ditutup kain dan seng," ujarnya.

Baca selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak hari ini, Selasa (27/5/2014).

Update terus informasi terbaru di tribunmanado.co.id

Penulis: Aldi_Ponge
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help