Minggu, 2 Agustus 2015

Ini Kekeliruan Diet Deddy Corbuzier Menurut Dokter

Senin, 28 Oktober 2013 01:22

Ini Kekeliruan Diet Deddy Corbuzier Menurut Dokter
Dok. Facebook
Deddy Corbuzier. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) tak hanya ramai dibicarakan. Metode diet ala Deddy Corbuzier ini juga mewabah ditiru banyak orang. Wajar, perubahan bentuk tubuh Deddy yang signifikan setelah ia melakoni diet ini, sungguh memotivisi banyak orang.

Atas keberhasilannya itu, Deddy tak mau menyimpan ilmunya. Ia lalu membuat e-book yang bisa diunduh secara gratis. Dalam waktu singkat, tercatat lebih dari delapan juta orang membacanya. Di dalamnya juga bertebaran testimoni dari para pengikut yang menyatakan keberhasilan menjajal diet yang mengedepankan "jendela makan" tanpa harus mengkalkulasi kalori yang masuk dalam tubuh.

Namun tak semua pihak, terutama medis setuju akan diet ini. Salah satunya pakar nutrisi dan pemerhati diet, yang juga ahli strength and conditioning untuk atlet, dr. Phaidon Toruan. Sejak awal Deddy Corbuzier memperkenalkan diet itu ia menolak. Menurutnya, diet Deddy ini tidak berorientasi pada kesehatan.

Ia menuturkan bahwa Deddy hanya memperkenalkan cara untuk membuat tubuh menjadi kurus, bukan untuk tubuh sehat. "Sayangnya dia nggak tahu kalau mau kurus itu harus dilihat dulu penyebab kegemukannya. Jadi bukan sekedar diet," ujarnya.

Phaidon mencontohkan dengan wanita yang mengalami kegemukan karena mengonsumsi pil KB. Saat ia ingin kurus dengan menerapkan diet OCD tapi tetap mengonsumsi pil tersebut, ia tidak akan menjadi kurus. Karena penyebab kegemukan ada pada pil KB yang memancing hormon gemuk dalam tubuh.

Yang juga disayangkan oleh Phaidon adalah diet yang diterapkan Deddy sama sekali tidak memedulikan konsumsi kalori yang masuk ke dalam tubuh. Menurut Phaidon dengan menyebutkan boleh makan apapun, artinya dalam diet OCD ini karbohidrat bisa didapat dari mana saja, termasuk dari lemak trans yang sudah jelas terbukti tidak sehat. Sehingga jika metode diet ini diterapkan dan lalu berhenti, kemungkinan besar berat badan akan kembali naik.

Bukan hanya soal kebebasan kalori, diet yang melarang pelakunya untuk sarapan ini juga berimbas buruk pada tubuh. Efek yang paling jelas adalah kerja otak melemah.

Halaman12
Editor: Robertus_Rimawan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas