• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 19 April 2014
Tribun Manado

Bahagia di Usia 40 Tahun Meski Tanpa Anak?

Kamis, 8 Agustus 2013 00:45 WITA
Bahagia di Usia 40 Tahun Meski Tanpa Anak?
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi ibu dan anak. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Semakin banyak pasangan (khususnya dari sisi perempuan) dengan usia matang dan kehidupan yang mapan, memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ada banyak pertimbangan yang membuat mereka memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Ada yang merasa anak bukanlah tujuan utama dalam pernikahan, mempertimbangkan usia dan faktor kesuburan, dan kondisi kesehatan masing-masing.

Akan tetapi, urusan momongan memang rahasia Tuhan yang akan menjadi misteri. Pasangan yang bertekad tidak memiliki anak ternyata kemudian berubah pikiran. Atau, mereka yang kesulitan memiliki anak, akhirnya memutuskan untuk menerima kenyataan akan ketidakhadiran anak dalam kehidupan rumah tangga mereka. Lalu, mereka berusaha mengisi kehidupan dengan mengejar passion mereka yang lain.

Seperti yang dialami Aimee Cebulski, penulis The Finding 40 Project. Di usianya yang sudah 40 tahun, ia belum dikaruniai seorang anak. Namun kecintaannya pada travelling, mendorongnya untuk berbagi cerita saat bertemu dengan 30 perempuan dari 10 negara, di mana usia mereka juga beranjak 40 tahun.

Di antara 30 perempuan tersebut ada yang berprofesi sebagai pekerja profesional, ibu rumah tangga, hingga entrepreneur. Ada yang tinggal di desa terpencil jauh dari hiruk pikuk ibu kota, ada beberapa yang memilih untuk tidak memiliki anak, ada yang menjadi ibu di kemudian hari, lalu salah satu dari mereka akhirnya menikah pada usia 40  tahun dan tengah menantikan anak pertamanya setelah berusia 41 tahun.

Tidak peduli bagaimana pun situasi atau kondisi mereka, banyak dari para perempuan tersebut yang mencari cara untuk menjalani hidup dengan baik. Mereka ingin menjadi bahagia pada usia 40 tahun, dengan atau tanpa anak. Lalu, apa yang dapat para perempuan tersebut ajarkan pada kita untuk tetap bahagia di usia 40 tahun meski tanpa anak?

Jujur pada diri sendiri. Para perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak berjuang menghadapi tekanan sosial dari masyarakat. Mereka mendorong orang lain untuk mengikuti kata hati mereka sendiri ketika mengalami hal tersebut.

Simona, wanita asal Brescia, Italia mengatakan: "Mengapa hal itu begitu sering ditanyakan kepada perempuan? Mengapa mereka tidak menanyakan hal serupa pada kaum pria yang di usia 40 tahun belum menikah dan tidak memiliki anak?"

Tentukan bagaimana memanfaatkan waktu Anda. Shamsa, wanita asal Uni Emirat Arab, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merawat kedua orangtuanya, daripada harus memikirkan bagaimana cara memiliki anak. Dia tahu bahwa kondisinya yang tanpa anak membuatnya jadi perhatian di lingkungan tempat tinggalnya, tapi ia lebih memilih untuk menempatkan kebutuhan keluarganya terlebih dahulu.

Bersyukurlah karena Anda berhak atas kesehatan reproduksi Anda sendiri. Kaum perempuan di negara miskin, atau mereka yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terus-menerus, umumnya tidak memiliki kontrol atas nasib reproduksi mereka sendiri.

Di sebuah desa kecil di luar Otavalo, Ekuador, Rosa Elena memiliki tujuh anak dan seorang cucu di usia 40 tahun. Ia tidak memiliki kuasa atas berapa banyak anak yang akan dia lahirkan, karena semua tergantung pada kehendak suaminya.

Tidak memusingkan persoalan keuangannya. Tekanan ekonomi merupakan faktor kunci bagi kaum perempuan dalam mempertimbangkan untuk tidak memiliki anak. Hal ini dapat berdampak lebih pada hal-hal seperti perencanaan pensiun. Itulah yang menjadi kekhawatiran banyak orang, entah itu Anda memiliki uang atau tidak sama sekali.

Di mana Anda dilahirkan itu yang terpenting. Sebagai perempuan, nasib Anda kerapkali ditentukan oleh tempat di mana Anda dilahirkan. Dengan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi, Aimee secara pribadi merasa bersyukur terlahir sebagai perempuan di Amerika Serikat. Karena menurutnya, meski negara ini memiliki masalah kesetaraan dan diskriminasi, tetapi akses untuk pendidikan, kesehatan, dan kebebasan dapat dimiliki sepenuhnya oleh kaum perempuan.

Editor: Robertus_Rimawan
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
405534 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas