Sabtu, 30 Mei 2015
Home » Opini

Doa Bapa Kami, Bentuk Persekutuan Sempurna Allah dan Manusia

Selasa, 30 Juli 2013 14:47

Renungan Hari Minggu XVII
Oleh Pastor Chris Sumarandak MSC, Pastor Paroki Ratu Rosario Suci Tuminting

Sering kali kita ketemu dengan pertanyaan-pertanyaan sekitar 'doa'. Bagaimana sih cara berdoa yang benar, kalau berdoa apakah harus pake bahasa yang baku, seberapa beda kualitas doa lafalan (Bapa Kami, Salam Maria, dst) dengan doa spontan. Bahkan dengan pertanyaan bernada keraguan atau keputusasaan; Mengapa Tuhan tidak mendengarkan doaku, Tuhan hanya berpihak pada orang lain, sedangkan saya tidak. Saya sudah rajin berdoa, beramal dan berkurban, tetapi mengapa justru saya mengalami malapetaka atau sakit? Apa mungkin doa saya salah ya.

Itulah beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang sering kita temui di sekitar doa atau bahkan mungkin yang sendiri kita alami.

Dalam bacaan pertama digambarkan bagaimana karena ketidaksetiaan manusia pada Tuhan (dosa) dan akibatnya (hukuman). Akibat beratnya dosa yang tergambar dari Sodom atau Gomora yang sudah selayaknya 'dibinasakan'. Karena kedekatan Abraham dengan Tuhan, maka masih terjadi negosiasi. Sekiranya masih ada orang yang setia....dan karena belas kasih Allah, dalam pernyatan Tuhan kepada Abraham: "Aku tidak akan memusnakannya demi yang sepuluh itu".

Wujud negosiasi antara ketidaksetiaan manusia pada belas kasihan Allah ini lebih sempurna lewat negosiator Perjanjian Baru ialah Kristus yang bahkan menyerahkan nyawa untuk keselamatan kekal umat manusia. ".... Surat utang yang oleh ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita, telah dihapuskanNya dan ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib". (Bacaan kedua Kol. 2:12-14).

Kekurangmampuan kita untuk setia kepada Tuhan membuat kita merasa jauh dari Tuhan. Itu sebabnya kita sering binggung dan sibuk dengan mencari pelbagai cara/metode untuk mendekati Tuhan, bahkan mungkin dengan cara memaksa, mengancam Tuhan untuk pelbagai keinginan manusia kita.

Kedamaian yang menjadi keinginan terdalam dari manusia, terbaca oleh murid Yesus ketika melihat keintiman, kedekatan, persekutuan Yesus dengan Bapa-Nya,....Tuhan, ajarilah kami berdoa". Bacaan Injil.

Halaman1234
Penulis: David_Manewus
Editor: Robertus_Rimawan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas