Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Manado

Andi Beralih Jadi Pedagang Ikan

Senin, 22 Juli 2013 14:27 WITA

Laporan wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID,AMURANG- Kebanyakan nelayan di Minahasa Selatan (Minsel) memilih tidak melaut dua pekan terakhir. Mereka khawatir cuaca buruk yang terjadi di perairan laut Sulawesi bisa mengancam keselamatan nelayan dan kapal.

"Saya memang sudah sekitar dua minggu tidak melaut, lantaran ombak besar, dan angin kencang juga hujan deras, jadi saya tidak mau ambil resiko," jelas Andi Durand, nelayan Amurang, Minggu (21/7).

Ia menambahkan, juga anak buah kapal (ABK) kapalnya sementara diistirahatkan. "Nanti kalau sudah normal lagi cuacanya, baru kami akan melaut lagi, namun belum tahu sampai kapan," kata dia.

Beruntung ia masih ada pendapatan, melalui bisnis penjualan ikan, namun tak seberapa. "Soalnya sekarang harga ikan naik, biasa ikan seberat 1,2 kilogram, satu keranjang Rp 600 ribuan, sekarang Rp 1 juta," jelasnya.

Menurutnya, selain harga naik, ikan yang masuk juga susah didapat, jika cuaca ekstrem seperti ini. "Biasanya ambil di daerah yang lumayan jauh, dan beberapa tempat," jelasnya. Hal yang sama dialami oleh nelayan di Desa Arakan dan Rap-Rap, Kecamatan Tatapaan. Mereka memilih untuk tidak melaut.

"Saya sudah tiga hari tidak melaut, karena cuacanya yang tidak bagus, hujan dan angin kencang," jelas Rifai Tuya.

Ia menambahkan, tidak mau ambil risiko untuk melaut. "Ya, saya terpaksa menunggu cuaca baik, baru akan melaut lagi, kalau seperti ini bisa-bisa satu bulan tidak melaut," jelasnya.

Otomatis, pendapatannya pun tidak ada lagi, sebab keahliannya hanya melaut saja. "Satu hari kalau penghasilan normal, hanya dapat Rp 50 ribu bersih, namun kalau tidak, seperti ini, ya tidak dapat apa-apa," jelasnya. (amg)

Penulis: Alpen_Martinus
Editor: Rine_Araro

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas