Penganut Yahudi di Manado
Jemaat Harus Bisa Bahasa Ibrani
Rabbi Yobbi Ensel rutin menjalankan ibadah Yahudi di rumahnya pada 2003 di Kota Manado, Sulawesi Utara.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Setelah Rabbi Yobbi Ensel rutin menjalankan ibadah Yahudi di rumahnya pada 2003 di Kota Manado, Sulawesi Utara, perlahan keturunan Yahudi lainnya ikut bergabung. Sejak saat itu dia membuat perkumpulan bernama Kehillah Yudaisme Manado (Jemaat Yahudi Manado). "Ini adalah gerakan religi bukan politik," katanya saat ditemui merdeka.com di lobi sebuah hotel Jumat malam pekan lalu di Manado.
Menurut Yobbi, komunitasnya ingin menjalankan Yudaisme dengan murni. Sebab itu, mau tidak mau jemaatnya harus bisa berbahasa Ibrani, bahasa utama Yahudi. Dia memfasilitasi jemaatnya belajar Ibrani setelah pelaksanaan upacara hari Sabbath. Saat merdeka.com diizinkan melihat upacara Sabbath Sabtu pekan lalu, 12 orang hadir lancar membaca Torah dan kitab-kitab pujian berbahasa Ibrani.
Jemaat pimpinan Yobbi adalah keturunan Yahudi dari berbagai tempat di Sulawesi Utara. Mereka biasa berkumpul saban Sabtu untuk ibadah mingguan. Tidak ada ciri khusus keturunan Yahudi. Yobbi mengungkapkan keturunan Yahudi umumnya gelisah dan terus bertanya akan perasaan Ibrani dalam dirinya. "Biasanya kemudian orang demikian segera mencari tahu silsilah keluarganya, apakah memiliki darah Yahudi atau tidak," ujarnya.
Pengakuan serupa dilontarkan Odhy Theys, 25 tahun, jemaat dari Winangun, Manado, setelah upacara Sabbath di kediaman Yobbi Sabtu pagi pekan lalu. "Pemeluk Yahudi berawal dari kegelisahan iman, kemudian terus mencari kebenaran itu," sambung jemaat bernama Reginal, 50 tahun. Bahkan Reginal mencari hingga Yerusalem pada 2006. Dia mengaku menemukan apa yang dia cari saat bertemu rabbi di sebuah sinagoge di kota tiga agama itu.
Dari 30 anggota jemaat Yobbi, tidak semua dari Manado. Ada pula yang dari Tondano dan Maluku Utara. Profesi mereka beragam: petani, pedagang, pengusaha, anggota DPRD, hingga polisi. "Semua anggota DPRD sudah mengetahui saya beragama Yahudi. Bahkan dalam sidang saya menggunakan kippah," tutur seorang anggota komunitas tidak mau disebut nama, lokasi daerah pemilihan, dan partainya.
Menurut anggota DPRD itu, kehidupan penganut Yahudi di Manado tidak bermasalah. Dia mencontohkan penggunaan identitas dan pintu rumah Yobbi selalu terbuka saat melakukan ibadah Sabbath. Meski begitu, di KTP rata-rata bertulisan Kristen Protestan. "Mungkin harus pelan-pelan agar Yahudi bisa diterima masyarakat Indonesia dan menjadi agama resmi seperti agama lainnya."
Yobbi dan jemaat lain mengamini. Selama ini informasi tentang Yahudi dipenuhi rasa benci dan permusuhan. "Di mana-mana Yahudi selalu diusir, dianggap perusuh. Padahal kami di sini hidup berdampingan dengan agama yang ada," kata Yobbi.
Dia menegaskan penganut Yahudi harus bertanggung jawab memperbaiki dunia (tikkun olan) dengan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain dan masyarakat sekitar. "Di Manado kita membaur dengan yang lain. Gotong royong kalau ada pekerjaan bersama di masjid dan gereja. Dua rumah ibadah itu tidak jauh dari rumah saya."(mdk)