Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Warga Boltim Mengeluh Jatah BBM Dikurangi Pertamina

Kenaikan harga BBM belum resmi diberlakukan oleh pemerintah pusat namun justru pihak pertamina mengirimkan BBM ke Boltim tidak sesuai kuota.

Tayang:
Penulis: Aldi Ponge | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Aldi Ponge

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN-Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belum resmi diberlakukan oleh pemerintah pusat namun justru pihak pertamina mengirimkan BBM ke Boltim tidak sesuai kuota.

Warga Boltim, Opan Potabuga mengeluhkan berkurangnya pengiriman jatah BBM jenis premium ke stasion Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tutuyan oleh pihak pertamina. "Jatah premium yang kami tahu, sebanyak 16 ribu liter namun saya dengar hari ini (Kemarin) justri dikurangi hanya 8 ribu liter. Ini tidak cukup untuk kebutuhan warga Boltim," ujar Opan, pada Rabu (19/6).

Opan mengatakan sejak maraknya pemberitaan akan dinaikkannya harga BBM dari Rp 4500 menjadi Rp 6500. Justru pasokan BBM ke Boltim seolah menghilang. Pasalnya, hingga beberapa hari pertamina tidak mengirimkan BBM ke satu-satunya SPBU di Boltim tersebut. "Tiga hari kosong terakhir, sehingga BBM di depot (eceran) naik hingga Rp 10 ribu karena pengecer membeli ke Kotamobagu," kata Opan.

Opan menuturkan naiknya harga BBM seminggu terakhir bukan karena warga menimbun BBM menjelang kenaikan harga BBM tapi karena pertamina tidak mengirimkan BBM ke Boltim. "Sebenarnya tidak menerima, kalau harga BBM akan dinaikkan namun mau bagaimana lagi, kita rakyat kecil. Asalkan stok BBM ada terus, tidak seperti ini justru dikurangi dan hilang beberapa hari," kata pria yang berprofesi sebagai tukang ojek ini.

Katanya, dengan naiknya  harga BBM maka dirinya akan menaikkan juga harga tarif ojekkan untuk mengimbangi kebutuhan hidupa yang dipastikan naik. "Biasanya kalau ojek Rp 20 ribu ke kebun, maka kita akan naikkan Rp 25 ribu," ungkapnya.

Pegawai SPBU Tutuyan, Ela Lakoro mengakui jatah BBM tidak dikirim pertamina sesuai kuota yakni 16 ribu liter setiap harinya. Sehingga pihaknya mulai melarang pengisian BBM bersubsidi tersebut melalui jeriken seperti selama ini dilakukan. "Kami minta bantuan polisi hari ini untuk mengaturnya, diperbolekan hanya kendaraan sedangkan jeriken tidak bisa lagi agar cukup," jelas Ela.

Pantaun Tribun Manado, antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU Tutuyan tersebut. Warga kuatir kehabisan premium seperti terjadi seminggu belakangan. Polisi yang berjaga tidak memperbolehkan pengisian jeriken. Namun beberapa  kendaraan justru bolak-balik mengantre dan memindahkan bensin ke jeriken.

Sayangnya, hal tersebut hanya berlaku beberapa saat karena puluhan jeriken akhirnya secara bergantian turut mengantre di SPBU milik Wakil Bupati Minahasa Tenggara terpilih, Ronald Kandoli.

Selain, itu tampak puluhan kendaraan dinas pemerintah ikut mengentre BBM bersubsidi tersebut. Mereka beralasan di Boltim tak ada pertamax.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved