"Dengan Merangkai Bunga Saya Bisa Keliling Indonesia"
KARENA bunga, anak-anak bisa sekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Karena bunga bisa keliling Indonesia tanpa mengeluarkan uang pribadi.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Warstef Abisada
Kota Bunga. Itulah Tomohon, Sulawesi Utara. Sebutan itu bukan sekadar slogan. Sebab, bunga mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
KARENA bunga, anak-anak bisa sekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Karena bunga bisa keliling Indonesia tanpa mengeluarkan uang pribadi. Karena bunga dapur warga pun terus mengepul.
Indra Salam, warga Kakaskasen II Lingkungan II Tomohon adalah salah satu dari sekian banyak masyarakat Tomohon yang menggantungkan hidupnya lewat hasil menjual bunga.
Pria 46 tahun itu mulai menekuni usaha menjual bunga pada 2008 lalu, ketika Tomohon International Festival Flower kali pertama digelar era Bupati Jefferson Rumajar.
"Pertama kali saya mengembangan usaha menjual bunga pada tahun 2008 lalu ketika TIFF digelar. Awalnya memang hanya coba‑coba, tapi setelah ditekuni ternyata usaha ini sangat menjanjikan. Ternyata banyak mendatangkan untung, malah belum pernah rugi sekalipun," kata suami Janeke Polii ini kepada Tribun Manado, Senin (17/6).
Indra mengungkapkan, pada 2008 lalu ketika memulai usaha, kiosnya yang diberi nama Tesa Florist hanya menjual bunga musiman saja. Misal memanfaatkan momen Natal, tahun baru, Paskah dan perayaan hari besar lainnya.
Tapi, sejak mendapat bantuan dari pemerintah pada 2011 lalu, outlet bunga miliknya sudah bisa melakukan penjualan rutin tanpa mengenal waktu.
"Ketika mendapat bantuan dari pemerintah, saya bertambah semangat untuk menjual bunga. Apalagi bunga Tomohon dapat dipasarkan hingga ke daerah lain," tegasnya.
Indra mengaku usaha menjual bunga hias atau bunga potong itu sangat sederhana. Hanya butuh ketrampilan merangkai dengan peralatan seadanya, seperti gunting, spons, dan pot saja.
"Modal awal hanya Rp 2 juta. Kini per bulan keuntungan yang didapat bisa mencapai Rp 10 juta. Saya bisa menyekolahkan anak‑anak, bahkan hingga kuliah," ungkap ayah dua anak, Tesa dan Fika itu.
Jenis bunga yang dijual di kiosnya berupa aster dengan harga Rp 2.500 per tangkai, antorium Rp 2.500 per tangkai dan crysant Rp 7.500 per tangkai. Untuk yang sudah dirangkai kisaran harga bunga mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 250 ribu.
"Yang dijual tak hanya bunga di kios, tapi kami juga melayani dekorasi untuk hotel di Manado, dan dekorasi untuk perkawinan. Jadi, rata‑rata bunga yang dihabiskan tiap minggu mencapai dua ribu tangkai," tuturnya.
Sebelum menekui usaha bunga, Indra bercita‑cita menjadi pegawai negeri sipil. Tapi karena beberapa kali mencoba mengikuti tes sejak 2003 tak pernah diterima, maka ia pun banting setir pilih jualan bunga.
Senada, Johny Karundeng (47), warga Kakaskasen II Lingkungan VII Tomohon mengaku dengan menjual bunga juga bisa mencukupi kebutuhan keluarganya setiap hari. "Menanam dan menjual bunga memang sudah menjadi usaha turun temurun keluarga. Jadi yang saya lakukan sekarang meneruskan apa yang sudah dilakukan orangtua," kata pria yang memulai usaha sekitar 1997 itu.
Diungkapkan Johny, sebelum menekuni usaha bunga, ia sempat beberapa kali ikut tes masuk tentara dan polisi, bahkan sempat menjadi honorer di Kota Bitung pada 1991. Saat jadi pegawai di Bitung itulah dia mendapat tugas merangkai bunga.