• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Tribun Manado

Sisi Lain Kehidupan Waria di Manado, Pulang Sebelum Matahari Bersinar

Jumat, 14 Juni 2013 14:43 WITA
Sisi Lain Kehidupan Waria di Manado, Pulang Sebelum Matahari Bersinar
ilustrasi

Di antara ratusan waria di Kota Manado ada memiliki latar belakang pendidikan hingga strata satu.

WARIA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pria yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanita atau pria yang mempunyai perasaan sebagai wanita.

Sebagian besar warga Kota Manado agaknya tidak asing lagi dengan kalangan waria di kota ini. Tribun Manado yang coba masuk ke dalam kehidupan mereka menemukan fakta menarik, betapa para waria itu memiliki harapan serta perjuangan hidup yang tak jauh berbeda dengan manusia lainnya.
Ratusan waria yang saban malam mangkal di sejumlah lokasi di Kota Manado menjalani profesi beragam. Ada yang bekerja di salon, tempat pijat hingga lembaga yang peduli terhadap HIV/AIDS. Penghasilan mereka pun bervariasi. Ada yang dalam sebulan bisa memperoleh penghasilan lebih dari Rp 5 juta.  "Saya pernah selama tiga hari memperoleh uang  7 juta rupiah dari profesi saya sebagai waria," kata Angky Natali alias Ade.

Menurut Ade,  kebutuhannya sebagai hampir sama dengan perempuan dalam hal merawat diri. "Kalau tidak dandan kan tidak kelihatan seperti perempuan," tambahnya.  Waria lainnya, Api Taha alias Audi mengaku disamping menjadi waria dia setiap hari bekerja di sebuah tempat pijat  di Kota Manado untuk memenuhi kebutuhan hari-hari mulai dari makan, bayar tempat kos hingga merias diri. "Yah, penghasilan relatif,  kadang dalam sebulan hanya Rp 500 ribu kadang sampai Rp 1 juta," tutur Audi.

Dengan penghasilan yang tak menentu,  Adi kerap mengalami kesulitan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehingga harus mencari pekerjaan lain di panti pijat. "Kalau di tempat pijat saya sih lebih sering berpenampilan perempuan karena yang namanya panti pijat semua perempuan," katanya.

Penelusuran Tribun sebagian besar waria tinggal di kos-kosan sederhana berukuran sedang. Ada kos berdinding beton, tripleks hingga kayu.  Audi mengatakan waktu keluar kos guna menjalani profesi sebagai waria tidak menentu. Tapi rata-rata mulai 11 malam hingga pukul 2 dinihari hari. "Ke tempat kerja biasanya naik ojek yang sudah menjadi langganan saya," ujarnya.
 
Di tempat mereka mangkal, para waria memanggil pelanggan yang melintas dengan kendaraan roda dua hingga roda empat lewat beragam sapaan mulai say, hey, papi diikuti dengan uluran tangan.  Tarif yang dipatok bervarisi mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta sekali kencan di kos-kosan mereka. Bahkan ada juga yang kencan di sebuah tempat tak jauh dari lokasi para waria itu mangkal setiap mala.

Setiap malam rata-rata mereka mangkal sejak pukul 10 malam dan pulang sebelum matahari pagi bersinar. Banyak pelanggan yang mampir menggunakan kendaraan roda dua hingga roda empat. Tak jarang mobil-mobil mewah pun mampir di lokasi tempat mangkal para waria. Bahkan ada juga pengendara usil yang mencoba menabrak para waria yang sedang berdiri di sisi jalan dengan pakaian seksi. Mereka harus menghindar dengan cara melompat ke tepi jalan sambil mengeluarkan suara khas waria. "Aaauuu... Aduuu Bae-bae leh bawa oto ato motor." 

Transaksi bisa berlangsung 20 hingga 30 menit sebelum ada kata sepakat antara waria dan pelanggan. Transaksi berlangsung di dalam kendaraan atau di samping kendaraan yang berhenti..

Alvian Menda (22) alias Natasya Candrawinata merasakan keletihan karena terus- menerus di pinggir jalan menunggu ada yang datang mengajak dirinya berkencan. "Saya juga pekerja lapangan di sebuah lembaga yang peduli terhadap penanggulangan HIV AIDS serta bekerja di salon," kata Natasya.  Dia tak sungkan menceritakan penghasilannya sebagai waris. "Penghasilan saya bervariatif mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 5 juta dalam sebulan," katanya.

Sungguh penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari bayar kos Rp 300 per bulan, make up, makan hingga rokok. "Kalau biaya make up tak ternilai harga untuk membeli bedak karena setiap dua mingu bahkan tidak menentu pemakaian alat kosmetik. Biaya paling mahal di makan plus camilan,"  tambahnya. Dia pun tak segan menceritakan mengapa dirinya terjun ke dunia yang oleh sebagian orang  belum menerima keberadaannya.

"Terjun ke sana karena memang saya dibesarkan di lingkungan yang mayoritas perempuan. Saat pertama menggeluti profesi ini sering saya dibodohi pelanggan, saya pernah ditinggal di jalan hingga diacam dengan pisau," kata Natasya. Menurut Natasya, di antara ratusan waria di Kota Manado ada memiliki latar belakang pendidikan hingga strata satu (S1). "Ada yang kuliah  hingga sarjana tergabung dalam komunitas (GWL) Gay Waria dan Lelaki suka Laki-Laki (LSL)," tuturnya. Selain berlatar pendidikan tinggi, dalam keseharian mereka pun tidak lupa menjalankan ibadah. "Iya, hari Minggu saya ke gereja," pungkasnya.  (christian wayongkere)
Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Andrew_Pattymahu
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
344143 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas