Pengucapan Syukur di Minut Meriah
Pengucapan syukur berlangsung di Minahasa Utara, Minggu (9/6).
Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID- –
Pengucapan syukur berlangsung di Minahasa Utara, Minggu (9/6).
Pengucapan digelar
beragam di 10 Kecamatan yang ada di Minahasa Utara.
Beberapa desa di
Kecamatan Dimembe dan Likupang menggelar pengucapan dengan menyediakan makanan
di setiap rumah, dengan mengundang keluarga serta warga sekitar.
Di desa yang berada dekat
Manado serta di Minawerot (sebutan untuk desa bersambung antara Airmadidi dan
Kauditan) pengucapan hanya berlangsung di Gereja, dengan warga membawa uang
persembahan serta natura.
Di desa Lumpias,
pengucapan berlangsung meriah. Sepanjang hari, desa tersebut dikunjungi banyak
orang yang kebanyakan adalah warga Lumpias perantauan.
John Rompis, warga
Manado yang mengaku asli Lumpias datang ke desa tersebut, selain untuk ikut
pengucapan, juga bernostalgia dengan kampung halaman.
John yang datang
bersama dengan istrinya, semringah sepanjang hari itu, melihat senyum
saudaranya, serta menyantap nasi jaha kesukaannya.
‘Sangat senang, tahun ini
lebih ramai dibanding tahun lalu,” tuturnya.
John kian semringah
ketika nasi jaha ia bawa pulang, sebanyak 7 bulu. “Ini pasti akan dibagi - bagi
ke para tetangga,” ujarnya.
Christian, warga Teling
lainnya juga pulang Lumpias. Menggunakan sepeda motor babaj miliknya, lelaki
bujang ini berangkat dari Teling, menembus hujan gerimis, lalu tiba di Lumpias
pada siang hari.
Ia bergabung dengan
John, serta Panci, sang pemilik rumah. “Sangat senang bisa datang kemari,”
ujarnya.
Panci bertutur, ia menyiapkan
makanan khas Minahasa seperti RW, Ikan Bakar, Tinorangsak dan nasi jaha.
Makanan ia bakar pada
malam sebelumnya. “Saya buat ini bersama istri dan anak,”katanya.
Meski tidur larut,
namun ia sekeluarga bangun pagi untuk masuk Gereja. Setelah itu mereka menjamu
tamu.
Makanan itu disantap
Christian dengan lahapnya. Christian paling suka dengan nasi jaha, namun
menyebut semua makanan enak.
Lebih jauh, ia menyebut
yang terpenting adalah rajutan persaudaraan melalui momen pengucapan syukur
itu.
“Setahun sekali saya
datang di lumpias, hanya saat pengucapan, senang bisa ketemu om dan tante,”
katanya sambil menambahkan jika pengucapan tahun ini lebih meriah ketimbang
tahun lalu.
Meski terletak di ujung
utara Minut, tapi Desa Tiwoho di Kecamatan Wori tak mkau kalah dengan menggelar
pengucapan syukur.
Kumtua Tiwoho Maramis
menyatakan pengucapan di Tiwiho berlangsung layaknya di desa – desa lain dengan
menyiapkan makanan di rumah – rumah dan menjamu tamu.
“Kami siapkan ayam
bulu, juga nasi jaha,” katanya. Yang unik dari desa ini, ujar dia, banyak
penduduk Muslim di desa itu, yang juga terlibat dalam pengucapan.
“Semboyan kami hidup
rukun dan damai,” katanya.
Armando, warga Desa
Kalawat mengikuti pengucapan syukur di desanya dengan mendatangi gereja.
Ia memberi uang
persembahan sebagai wujud ungkapan syukur kaena Tuhan telah menjaga
keluarganya. “ Tuhan itu baik,” katanya. (art)